Lonjakan Unduhan UpScrolled Usai Perubahan Kepemilikan TikTok di AS
Aplikasi media sosial UpScrolled mengalami lonjakan unduhan yang signifikan seiring dengan pergantian kepemilikan TikTok di Amerika Serikat. Dari Kamis hingga Sabtu pekan lalu, UpScrolled mencatat sekitar 41.000 unduhan, hampir sepertiga dari total sejak peluncurannya.
Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone
Kenaikan ini terjadi setelah TikTok menyelesaikan kesepakatan baru pada 22 Januari 2026, yang memicu perdebatan di kalangan pengguna mengenai kebijakan dan tata kelola platform.
UpScrolled didirikan pada Juli 2025 oleh Issam Hijazi, seorang insinyur yang memiliki latar belakang dari Palestina, Yordania, dan Australia. Sebelum menciptakan aplikasi ini, Hijazi memiliki pengalaman di perusahaan teknologi global seperti IBM, Oracle, dan Hitachi.
Visi dari UpScrolled adalah untuk menciptakan ruang digital yang menawarkan kebebasan berekspresi tanpa campur tangan algoritma tersembunyi. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk berbagi foto, video, dan teks, memadukan karakteristik Instagram dan X dengan klaim transparansi yang lebih jelas.
Baca juga: WhatsApp Perbaiki Celah Keamanan yang Ancam Data Pengguna iOS dan Mac
Kesepakatan TikTok dengan konsorsium investor non-China telah membawa perubahan signifikan dalam struktur kepemilikan yang kini mayoritas dimiliki oleh pihak Amerika. ByteDance, perusahaan asal China, kini hanya memegang kurang dari 20 persen saham.
Menurut laporan TechCrunch, tiga investor utama dalam usaha patungan TikTok di AS adalah Oracle, Silver Lake, dan MGX dari Abu Dhabi, masing-masing menguasai sekitar 15 persen saham. Pergeseran ini mengundang kekhawatiran pengguna terkait kebijakan privasi dan moderasi konten.
Sejumlah pengguna yang khawatir akan kebijakan baru melalui TikTok mulai beralih ke alternatif seperti UpScrolled. Dalam pernyataan resminya, Hijazi menegaskan bahwa tujuan UpScrolled adalah untuk mengembalikan kendali kepada pengguna, bukan kepada korporasi besar.
UpScrolled mengklaim tidak menerapkan praktik shadowban, yang seringkali membatasi jangkauan konten pengguna secara diam-diam. Transparansi algoritma dan kebijakan konten merupakan prinsip utama yang diterapkan untuk menarik perhatian pengguna.
Baca juga: Destinasi Menakjubkan untuk Menyaksikan Sunset di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: