Sabtu, 21 FEBRUARI 2026 • 14:13 WIB

Inovasi Mini Otak Buatan: Memahami Penyakit Saraf dengan Sinyal Listrik

Author

Inovasi Mini Otak Buatan: Memahami Penyakit Saraf dengan Sinyal Listrik

Sekelompok ilmuwan telah mengembangkan mini otak buatan yang mampu menyelesaikan tugas sederhana melalui sinyal listrik. Temuan ini membuka jalan baru dalam pemahaman penyakit saraf dan kapasitas belajar otak.

Baca juga: Peluncuran Smartphone Terbaru Realme dengan Kapasitas Baterai Jumbo

Mini otak ini dibentuk dari sel punca tikus dan menyediakan metode inovatif untuk penelitian neurologis. Dengan kemampuan untuk mengirim dan menerima sinyal, penelitian ini menunjukkan harapan baru dalam memahami kemampuan neuron.

Pengembangan Mini Otak Buatan

Mini otak yang dikembangkan dalam penelitian ini berasal dari sel punca tikus yang ditumbuhkan menjadi jaringan otak kecil. Meskipun tidak cukup kompleks untuk berpikir, mini otak tersebut dapat berfungsi dalam mengirim dan menerima sinyal listrik.

Koneksi dalam mini otak ini beradaptasi sebagai respons terhadap rangsangan eksternal. Peneliti menghubungkannya dengan simulasi keseimbangan virtual, analogi dengan menyeimbangkan penggaris di telapak tangan.

Metodologi Penelitian dan Temuan

Dalam penelitian ini, sinyal listrik digunakan untuk memberi tahu mini otak tentang kemiringan tiang virtual. Respons yang dihasilkan diterjemahkan menjadi perintah untuk menggerakkan kereta virtual ke kiri atau kanan.

Baca juga: Kecerdasan Buatan Membuka Era Baru dalam Perawatan Keguguran

"Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah," ungkap Ash Robbins, Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz.

Para peneliti membagi mini otak dalam tiga kelompok percobaan: tanpa umpan balik, umpan balik acak, dan umpan balik adaptif yang disesuaikan berdasarkan kinerja.

Hasil Penelitian dan Implikasi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mini otak tanpa panduan mencapai tolok ukur kinerja hanya 2,3 persen, sedangkan umpan balik acak mencapai 4,4 persen. Sebaliknya, mini otak yang mendapatkan umpan balik adaptif berhasil mencapai 46 persen.

"Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami benar-benar bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," jelas Robbins.

Meski hasil ini menunjukkan potensi yang menjanjikan, penelitian ini juga menemukan bahwa mini otak yang terlatih akan langsung "lupa" dalam waktu 45 menit jika tidak aktif.

Baca juga: Menciptakan Kamar Tidur Nyaman untuk Tidur Berkualitas dengan Fengshui

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU