Komet 3I/ATLAS menarik perhatian publik dengan penampakan hijau cemerlang yang seakan menyembunyikan ekornya. Ilmuwan menegaskan bahwa fenomena ini tidak perlu dikhawatirkan.
Baca juga: Apple Siap Luncurkan iPhone 17 Series Tanpa Slot SIM Tray
Citra terbaru dari Lowell Observatory menunjukkan keunikan komet ini yang hanya tercatat tiga kali di Tata Surya, memberikan peluang kepada astronom untuk mempelajari materi unik yang dibawanya.
Asal Usul dan Penampakan Komet
Komet 3I/ATLAS adalah komet antarbintang yang menarik perhatian berkat penampilannya yang menawan. Peneliti Qicheng Zhang berhasil menangkap citra terbaru pada 5 November saat komet ini menjauhi Matahari.
Sebelumnya, komet ini berada di balik Matahari dan mencapai titik terdekat pada 29 Oktober. Proses ini menyebabkan komet tampak hijau cemerlang, akibat pembentukan koma yang terjadi dari perlakuan panas Matahari.
Koma terbentuk saat es dan material dari inti komet menyublim menjadi gas, dengan warna hijau dihasilkan dari partikel karbon diatomik. Zhang menggunakan filter khusus untuk mendeteksi cahaya yang dipancarkan oleh partikel ini.
Baca juga: Meningkatkan Produktivitas dengan Fengshui Meja Kerja
Misteri Ekor Komet
Dalam penampakan terbaru, ekor debu komet terkesan 'menghilang', tetapi Zhang menjelaskan bahwa ekor tersebut sebenarnya masih ada. Dengan pengamatan lebih dekat, terlihat bahwa sisi kiri komet lebih terang dibandingkan sisi kanan.
Asimetri ini terjadi akibat posisi pandang terhadap ekor yang hampir berhadapan langsung. Ekor yang melengkung sedikit ke kiri menjadi tidak terlihat jelas, namun ini bukan pertanda masalah pada komet.
Zhang menekankan bahwa ketidakjelasan ekor bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, mencerminkan kompleksitas dalam observasi komet.
Komet Bukan Pesawat Alien
Komet 3I/ATLAS telah menjadi fokus observasi, tetapi para astronom memastikan bahwa ini adalah komet biasa dari sistem bintang lain, serta berencana melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami latar belakangnya.
Sebagai pendatang antarbintang ketiga yang tercatat, komet ini memiliki potensi menjadi yang tertua yang pernah disaksikan. Studi awal menunjukkan umurnya bisa lebih dari 3 miliar tahun lebih tua dari Tata Surya.
Ada kekhawatiran bahwa radiasi antariksa berkepanjangan dapat menyebabkan komet ini memiliki kerak tebal, dan jika material yang dikeluarkan merupakan hasil dari radiasi, proses penentuan asal-usulnya akan semakin rumit.
Baca juga: Aksi Pria Berjaket Ojol Viral di Atas Kereta KRL di Stasiun Cikini
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: