BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Rabu, 04 MARET 2026 • 13:59 WIB

Kecerdasan Buatan dan Militer: Potensi dan Bahaya dalam Operasi di Iran

Kecerdasan Buatan dan Militer: Potensi dan Bahaya dalam Operasi di IranKecerdasan Buatan dan Militer: Potensi dan Bahaya dalam Operasi di Iran

Kecerdasan buatan (AI) semakin banyak digunakan dalam operasi militer, termasuk oleh militer Amerika Serikat dalam serangan terhadap Iran. Pemanfaatan teknologi ini memicu kekhawatiran tentang dampak yang dapat ditimbulkan di medan perang.

Baca juga: Peluncuran Smartphone Terbaru Realme dengan Kapasitas Baterai Jumbo

Pakar memperingatkan bahwa meskipun AI dapat mempercepat keputusan militer, potensi kesalahan yang fatal tetap ada dan perlu diwaspadai.

Peran Kecerdasan Buatan dalam Operasi Militer

Militer Amerika Serikat dilaporkan menggunakan sistem kecerdasan buatan, khususnya model Claude dari Anthropic, untuk mendukung berbagai operasi militer. Teknologi ini digunakan tidak hanya untuk pengumpulan dan analisis data, tetapi juga dalam penentuan target serangan.

Craig Jones, dosen senior geografi politik di Universitas Newcastle, mengatakan, 'AI mengubah sifat peperangan modern di abad ke-21. Sulit melebih-lebihkan dampaknya saat ini dan di masa depan. Ini adalah skenario yang berpotensi sangat mengerikan.'

Baca juga: Pentingnya Rutin Mengonsumsi Obat Cacing untuk Kesehatan

Instruksi untuk Mengintegrasikan AI Secara Besar-Besaran

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengeluarkan instruksi untuk mempercepat adopsi AI dalam militer. Ia menyatakan, 'Saya menginstruksikan Departemen Perang mempercepat Dominasi AI Militer Amerika dengan menjadi kekuatan tempur yang mengutamakan AI di semua komponen.'

Dengan perintah ini, pendekatan militer AS terhadap teknologi AI semakin agresif meskipun terdapat ketegangan antara Anthropic dan pemerintah mengenai aplikasinya di medan perang.

Risiko dan Tantangan Kecerdasan Buatan di Medan Perang

Walaupun AI memberikan banyak keuntungan, para ahli menyoroti risiko yang melekat dalam pengambilan keputusan berbasis teknologi ini. David Leslie, profesor di Queen Mary University of London, berkomentar, 'Kita belum berada di era Terminator.'

AI berfungsi sebagai alat bantu untuk memfasilitasi pengambilan keputusan, namun tetap ada tantangan dalam pengawasan manusia terhadap keputusan yang diambil oleh sistem. Jones menegaskan, 'Secara teknis, manusia memang ada. Namun menurut saya, itu tidak berarti mereka cukup terlibat untuk memiliki kekuatan pengambilan keputusan efektif dan pengawasan yang tepat atas apa yang sebenarnya terjadi.'

Baca juga: Menunjukkan Cinta Tanpa Kata: Cara Sederhana untuk Membahagiakan Pasangan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Kecerdasan Buatan dan Militer: Potensi dan Bahaya dalam Operasi di Iran

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!