Rusia Ambil Langkah Pemblokiran WhatsApp, Apa Penyebabnya?
Pemerintah Rusia mengambil langkah tegas dengan membatasi akses layanan WhatsApp dan berniat memblokir aplikasi tersebut sepenuhnya dalam waktu dekat. Langkah ini berpotensi mengisolasi lebih dari 100 juta pengguna aplikasi pesan tersebut di Rusia.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17
WhatsApp mengonfirmasi pembatasan ini melalui unggahan di platform X (Twitter), yang menekankan dampak besar bagi penggunanya. Rencana pemblokiran ini adalah kelanjutan dari tindakan serupa yang sudah dimulai sejak akhir tahun lalu.
Pemerintah Rusia telah mengeluarkan WhatsApp dari direktori online Roskomnadzor, lembaga yang mengawasi komunikasi di negara tersebut. Langkah ini, menurut laporan Financial Times, merupakan bagian dari serangkaian pembatasan yang dimulai sebelumnya.
Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin, menyatakan bahwa jika Meta, perusahaan di balik WhatsApp, bersedia mematuhi hukum Rusia, akses aplikasi dapat dipulihkan. "Jika perusahaan tetap tidak mau kompromi, bisa saya katakan, menunjukkan ketidaksiapan dalam dialog dengan pemerintah Rusia," ujar Peskov, seperti dikutip dari Reuters.
Larangan ini didasarkan pada tuduhan bahwa WhatsApp melanggar hukum setempat dan digunakan dalam aksi kriminal. Menurut juru bicara Roskomnadzor, aplikasi ini terlibat dalam pengorganisering aksi teror dan penipuan di Rusia.
Baca juga: Uya Kuya Hadapi Penjarahan Rumah Setelah Viral Video Joget Anggota DPR RI
Pembatasan komunikasi sudah dirasakan oleh ribuan pengguna WhatsApp di Rusia, terutama pada saat momen-momen penting seperti Natal dan Tahun Baru. Banyak yang mengeluhkan kesulitan berkomunikasi tanpa aplikasi ini, yang telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka.
Sebelum WhatsApp, pemerintah Rusia juga telah membatasi akses Telegram dengan alasan yang sama. Penggunaan kedua aplikasi ini sangat penting bagi masyarakat, dan banyak pengguna khawatir akan kehilangan privasi mereka.
Sebagai alternatif, pemerintah mendorong warga untuk beralih ke aplikasi lokal bernama Max. Aplikasi ini dirancang sebagai super-app yang mirip dengan WeChat di China, dan kini menjadi aplikasi wajib pada perangkat baru yang dijual di Rusia.
Pavel Durov, CEO Telegram, menyatakan bahwa pemblokiran aplikasi ini terkait dengan kebijakan pemerintah Rusia untuk mengawasi dan melakukan sensor terhadap warganya. Ia mengklaim, "Membatasi kebebasan warga tidak akan pernah menjadi jawaban yang tepat."
Ketegangan antara perusahaan teknologi dan pemerintah Rusia meningkat sejak invasi ke Ukraina pada tahun 2022. Pembatasan akses layanan seperti Google dan Zoom menunjukkan adanya kontrol yang semakin ketat terhadap informasi di negara tersebut.
Langkah Rusia untuk memblokir aplikasi asing diharapkan dapat memicu reaksi dari komunitas internasional, terutama terkait dengan isu kebebasan berkomunikasi dan akses informasi yang aman.
Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua pada Psikologi Anak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: