Tantangan Ramadan bagi Astronaut di Stasiun Luar Angkasa
Menjalani bulan suci Ramadan di luar angkasa menawarkan pengalaman unik bagi astronaut. Penentuan waktu ibadah seperti puasa di lingkungan tanpa gravitasi dan siklus siang malam yang ekstrem memerlukan penyesuaian khusus.
Baca juga: Kontroversi Anggota DPR Dinonaktifkan Tanpa Pengurangan Gaji
Di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), astronaut dihadapkan pada tantangan waktu yang tidak konvensional, sehingga diperlukan pendekatan alternatif untuk menjalankan ibadah.
Astronaut yang bertugas di ISS mengelilingi Bumi sebanyak 16 kali dalam satu hari. Hal ini menyebabkan mereka menyaksikan matahari terbit dan terbenam hingga 16 kali dalam 24 jam, sehingga penentuan waktu puasa tidak dapat mengacu langsung pada pergerakan matahari.
Berbeda dengan kondisi di Bumi, dimana durasi siang dan malam lebih stabil, di luar angkasa, konsep waktu menjadi lebih kompleks. Ini membuat penetapan waktu ibadah menjadi tantangan tersendiri.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, astronaut Muslim biasanya merujuk pada waktu tertentu di Bumi untuk menentukan waktu puasa. Pendekatan ini dapat dilakukan dengan mengikuti waktu negara asal atau waktu yang telah disepakati berdasarkan panduan keagamaan.
Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua pada Psikologi Anak
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu astronaut menjaga keteraturan ibadah meskipun berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan penggunaan siklus siang dan malam sebagaimana mestinya.
Selain penetapan waktu, terdapat pula tantangan dari aspek konsumsi makanan. Makanan astronaut diformulasikan khusus untuk memastikan kebutuhan gizi tetap terpenuhi di lingkungan tanpa gravitasi.
Di ISS, astronaut mengonsumsi makanan bergizi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan energi mereka. Meskipun menjalani puasa, perencanaan yang matang memastikan bahwa asupan gizi tetap terjaga.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, astronaut tetap berusaha menjalankan ibadah selama bulan Ramadan. Aktivitas seperti salat dan refleksi spiritual dilaksanakan sesuai kapasitas dan situasi yang ada.
Komunikasi dengan keluarga melalui panggilan video menjadi salah satu cara untuk mempertahankan koneksi emosional dan semangat Ramadan, meskipun berada di luar angkasa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: