Penipuan Phishing Menggunakan Kecerdasan Buatan Sasar Pengguna Gmail di Indonesia
Laporan terbaru mengungkap adanya modus penipuan phishing yang menargetkan pengguna layanan Gmail di Indonesia. Dalam aksinya, pelaku memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menciptakan panggilan telepon yang meyakinkan dan hampir tidak terdeteksi.
Baca juga: Kota-kota Favorit untuk Liburan Sendirian di Indonesia
Sam Mitrovic, Konsultan Solusi Microsoft, mencatat pengalaman pribadinya terkait upaya pengambilalihan akun. Ia menerima notifikasi dan panggilan yang menyatakan berasal dari Google Sydney.
Empat puluh menit setelah notifikasi pertama, Mitrovic kembali menerima panggilan serupa, di mana ia akhirnya mengangkat telepon tersebut.
Dalam percakapan dengan seorang pria yang mengklaim dari Google Support, Mitrovic diinformasikan tentang adanya aktivitas mencurigakan pada akunnya.
Mitrovic menyadari bahwa suara dalam telepon tersebut didukung oleh teknologi kecerdasan buatan, yang membuatnya hampir tidak dapat dibedakan dari percakapan manusia nyata.
Baca juga: Mengoptimalkan Kesehatan Mental Melalui Olahraga
Ia mengungkapkan bahwa penipuan semacam ini semakin canggih dan dapat menipu banyak orang, terutama mereka yang mungkin tidak memiliki kewaspadaan tinggi.
"Banyak orang akan teperdaya, tetapi pada tingkat individu dengan tools terbaik memiliki kewaspadaan," katanya.
Untuk melindungi diri dari penipuan, penting bagi pengguna Gmail untuk tidak terburu-buru memeriksa pesan yang masuk. Penipu seringkali menciptakan rasa urgensi untuk mendorong calon korban bertindak cepat.
Penting juga untuk memeriksa alamat email serta verifikasi informasi dari pengirim untuk memastikan keotentikannya sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Penggunaan software antivirus yang handal juga disarankan agar perangkat tetap terlindungi dari malware saat mengakses email yang mencurigakan.
Baca juga: Meningkatkan Produktivitas dengan Fengshui Meja Kerja
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: