Peta Jalan Kecerdasan Buatan Indonesia: Menuju Era Digital 2026
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah merancang peta jalan untuk penggunaan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Pemerintah menargetkan Peraturan Presiden (Perpres) mengenai hal ini akan dirilis pada tahun 2026.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Tetap Bugar Di Rumah
Dalam acara kumparan AI for Indonesia 2025 di Jakarta, Menteri Meutya Hafid mengungkapkan bahwa dokumen strategis ini akan menjadi panduan untuk penerapan teknologi dalam berbagai sektor prioritas.
Peta jalan kecerdasan buatan yang disusun oleh Kementerian Komunikasi dan Digital merupakan langkah penting dalam regulasi AI di Indonesia. Proses penyusunan peta jalan ini melibatkan 55 kementerian dan lembaga serta hampir 500 peserta dari berbagai sektor.
Menteri Meutya Hafid menjelaskan bahwa proses penyusunan dokumentasi ini sangat kolaboratif, menghabiskan waktu sekitar 5–6 bulan untuk mencapai kesepakatan. Ia berkata, "Ini bukan menjadi pembenaran bahwa aturannya baru akan keluar, tapi waktu itu kita benar-benar fokus untuk membahas arah yang akan kita ambil dalam mengimplementasikan atau mengadopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia."
Dokumen ini diharapkan dapat memberikan panduan yang jelas untuk sektor-sektor yang membutuhkan pengembangan AI, mengarah pada tata kelola yang lebih baik.
Baca juga: Pentingnya Merawat Kesehatan Mental di Kalangan Generasi Muda
Menteri Meutya menegaskan bahwa peta jalan AI akan berfokus pada sepuluh bidang prioritas yang diselaraskan dengan kebijakan Presiden. Bidang-bidang tersebut mencakup ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, reformasi birokrasi, hukum, energi, dan sumber daya lingkungan.
Dalam hal ini, kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. "10 bidang prioritas yang memang kita masukkan dalam Perpres buku putih peta jalan mengenai AI itu inline dengan 10 bidang prioritas presiden," tegasnya.
Dengan fokus pada bidang-bidang ini, diharapkan AI bisa memberikan kontribusi maksimal terhadap pembangunan nasional.
Pengembangan kecerdasan buatan diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik. Ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing global Indonesia melalui pengembangan talenta dan inovasi yang etis.
Namun, Menteri Meutya juga mengingatkan pentingnya keadilan sosial agar semua lapisan masyarakat merasakan manfaat dari kemajuan teknologi ini. "Kami ingin memastikan bahwa adopsi teknologi ini membawa manfaat yang luas bagi masyarakat dan menunjang kemajuan bangsa," pungkasnya.
Inisiatif ini adalah bagian dari usaha untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi penelitian dan pengembangan teknologi di Indonesia.
Baca juga: Sri Mulyani: Tidak Pernah Lelah Mencintai Indonesia Meski Menghadapi Tantangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: