Industri pariwisata Jepang menunjukkan ketenangan di tengah seruan boikot wisata dari China. Meskipun penurunan jumlah wisatawan asal China terjadi, pebisnis lokal tetap optimis menghadapi situasi ini.
Baca juga: Rekor Baru di Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool dan Aktivitas Klub Premier League
Beijing mendorong warganya untuk menghindari perjalanan ke Jepang akibat ketegangan politik, khususnya terkait Taiwan. Namun, beberapa pelaku bisnis menyatakan bahwa penjualan masih dapat ditopang oleh pelanggan domestik.
Dampak Boikot Wisata
Sejumlah pelaku bisnis pariwisata di Jepang merasakan dampak dari seruan boikot yang diluncurkan oleh China. Shiina Ito, seorang pebisnis di industri perhiasan, mengakui penurunan jumlah pelanggan dari China yang cukup signifikan di tokonya.
Ito menjelaskan bahwa pelanggan asal China biasanya menyumbang setengah dari total pembeli di tokonya yang berada di Asakusa, Tokyo. Namun, Ia mencatat penurunan tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap penjualan secara keseluruhan.
Ia menambahkan, "Karena jumlah pelanggan Tiongkok lebih sedikit, pembeli Jepang menjadi sedikit lebih mudah untuk berkunjung, jadi penjualan kami tidak terlalu turun," yang menggambarkan sikap optimis di tengah kendala ini.
Baca juga: Aksi Pria Berjaket Ojol Viral di Atas Kereta KRL di Stasiun Cikini
Ketergantungan pada Wisatawan Tiongkok
Jepang memiliki ketergantungan yang signifikan terhadap wisatawan asal China, yang dikenal karena pengeluaran yang lebih tinggi dibandingkan wisatawan asing lainnya. Rata-rata, pengunjung Tiongkok mengeluarkan uang lebih banyak untuk berbagai sektor, dari makanan hingga perawatan kulit.
Di distrik perbelanjaan Ginza, Yuki Yamamoto, manajer restoran mi udon, menyatakan bahwa meskipun belum merasakan dampak langsung dari pembatasan perjalanan oleh China, dia tetap waspada terhadap penurunan pelanggan ke depannya.
"Saya rasa tidak ada perubahan yang tiba-tiba dan dramatis," ungkap Yamamoto, walaupun ia memperkirakan setengah dari pengunjung yang mengantre di restorannya adalah orang China.
Statistik Wisatawan dan Perjalanan
Data resmi menunjukkan bahwa dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, Jepang mencatat hampir 7,5 juta pengunjung dari China, yang merupakan seperempat dari total wisatawan mancanegara. Meskipun ada penurunan, kunjungan ini masih signifikan bagi industri pariwisata Jepang.
Wisatawan asal China tercatat mengeluarkan dana sebesar US$3,7 miliar pada kuartal ketiga tahun ini. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mencatat bahwa pengunjung asal China menghabiskan rata-rata 22 persen lebih banyak daripada wisatawan dari negara lain.
Namun, peningkatan jumlah wisatawan juga menimbulkan kekhawatiran tentang pariwisata yang berlebihan yang dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.
Baca juga: Dampak Perkataan Kasar Orang Tua pada Psikologi Anak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: