Kamis, 29 JANUARI 2026 • 16:10 WIB

Menggali Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Generasi Muda

Author

Menggali Fenomena Quiet Quitting di Kalangan Generasi Muda

Di era kerja modern, muncul fenomena 'quiet quitting' yang menarik perhatian luas. Ini menggambarkan sikap karyawan yang memilih untuk melakukan pekerjaan di bawah ekspektasi tanpa merasa tertekan.

Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Dihujat Soal Pilihan Politik

Fenomena ini sangat relevan bagi banyak anak muda yang merasakan ketidakpuasan terhadap tuntutan tinggi di tempat kerja serta upaya untuk mencapai keseimbangan hidup yang lebih baik.

Definisi Quiet Quitting

Quiet quitting bukanlah tindakan mengundurkan diri, melainkan perubahan pola pikir yang mengarah pada pengurangan keterlibatan dalam pekerjaan. Karyawan yang merasakan hal ini akan cenderung untuk melakukan tugas yang dibebankan tanpa berusaha lebih dari yang diminta.

Media sosial, terutama TikTok dan Twitter, menjadi platform di mana banyak individu berbagi pengalaman mereka tentang beban kerja yang berlebihan. Mengabaikan tuntutan yang tidak realistis di tempat kerja dianggap langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.

Survei terbaru menunjukkan bahwa hampir 50% pekerja muda merasa terjebak dalam rutinitas monoton yang tidak memuaskan. Kondisi ini mencerminkan ketidakpuasan dan keinginan untuk menjaga semangat kerja tanpa kehilangan diri sendiri.

Baca juga: Lari Malam: Manfaat, Tantangan, dan Tips Keamanannya

Faktor Penyebab Fenomena Ini

Salah satu penyebab utama dari quiet quitting adalah meningkatnya tuntutan pekerjaan yang tidak diimbangi dengan imbalan yang layak. Banyak perusahaan gagal memberikan solusi yang efektif bagi karyawan untuk menangani tekanan, yang menyebabkan frustrasi di kalangan pekerja.

Situasi ekonomi yang sulit juga berkontribusi pada fenomena ini. Banyak anak muda merasa terpaksa bertahan dalam pekerjaan demi kelangsungan hidup meskipun tidak menemukan kepuasan, sehingga mereka memilih untuk 'berhenti' secara mental.

"Anak muda saat ini lebih memilih bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja," ungkap seorang peneliti di bidang sumber daya manusia. Penekanan ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir generasi yang lebih memprioritaskan keseimbangan hidup kerja dibandingkan ambisi karir semata.

Dampak Quiet Quitting di Tempat Kerja

Dampak dari quiet quitting dapat beragam, termasuk menurunnya produktivitas dan meningkatnya tingkat turnover karyawan. Perusahaan yang tidak menyadari fenomena ini berisiko kehilangan talenta berharga yang ada pada mereka.

Meskipun demikian, fenomena ini juga dapat diinterpretasikan sebagai peluang bagi perusahaan untuk lebih memperhatikan kesejahteraan para karyawan. Dengan penanganan yang tepat, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan memuaskan.

Perusahaan perlu terbuka dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan karyawan. Tindakan seperti menawarkan fleksibilitas dalam jadwal kerja atau meningkatkan dukungan mental bagi pekerja dapat berkontribusi dalam mengurangi tingkat quiet quitting di kalangan generasi muda.

Baca juga: Denza Luncurkan MPV Mewah D9 dengan Harga Lebih Kompetitif

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU