Kamis, 29 JANUARI 2026 • 12:12 WIB

Mengupas Lebih Dalam Fenomena Love Scam di Indonesia dan Dampaknya

Author

Mengupas Lebih Dalam Fenomena Love Scam di Indonesia dan Dampaknya

Love scam atau penipuan bermodus asmara terus menjadi ancaman yang serius di Indonesia, mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap hubungan interpersonal. Kasus-kasus baru terus muncul, terutama setelah aparat Imigrasi Indonesia membongkar jaringan penipuan internasional yang beroperasi dari Jakarta.

Baca juga: Patung Superhero Milik Anggota DPR Ini Jadi Korban Penjarahan

Psikolog Mellyana Setyowati, M.Psi., menyoroti bahaya love scam yang tidak hanya menargetkan uang, tetapi juga menciptakan hubungan emosional yang tampak nyata. Ini menjadi tantangan baru yang harus dihadapi di era digital saat ini.

Definisi dan Karakteristik Love Scam

Love scam adalah bentuk penipuan yang memanfaatkan teknologi komunikasi untuk menciptakan ikatan emosional dengan korban. Menurut Mellyana, "Love scam merupakan tindak pidana penipuan uang dengan menggunakan teknologi komunikasi massa di era teknologi informasi digital yang sedang marak."

Proses penipuan ini berlangsung secara bertahap, dengan pelaku berusaha membangun hubungan yang kuat sehingga korban merasa terikat. Elemen emosional yang dimanfaatkan membuat love scam berbeda dari penipuan lainnya, seperti investasi bodong.

Fenomena ini semakin meluas, dan sering kali korban berasal dari kalangan yang emosionalnya rentan. Mellyana menekankan bahwa pelaku menciptakan ikatan yang kuat, sehingga korban merasa terjebak dan sulit meninggalkan hubungan semu tersebut.

Baca juga: Beware of Hidden Sugars in Your Favorite Foods

Dampak Emosional terhadap Korban

Dalam perspektif psikologis, banyak individu yang menjadi korban love scam berada dalam keadaan emosional yang rapuh. Mellyana menjelaskan, "Kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian membuat individu lebih rentan menjadi korban penipuan emosional ini."

Ketika pelaku memberikan perhatian dan kasih sayang secara intens, ini dapat memicu reaksi kimiawi dalam otak yang membuat korban merasa jatuh cinta pada hubungan yang tidak realistis. Akibatnya, korban sering kali mengabaikan tanda-tanda bahaya.

Faktor kognitif turut berperan, di mana bias kognitif seperti confirmation bias menyebabkan korban hanya melihat bukti yang sejalan dengan harapan mereka, serta menolak kemungkinan bahwa mereka sedang ditipu.

Strategi Pelaku dalam Menjebak Korban

Pelaku love scam dikenal sangat terampil dalam menciptakan ilusi cinta ideal. Mellyana menyatakan, "Manipulasi dilakukan secara bertahap hingga korban merasa tidak enak menolak." Hal ini membuat korban merasa terjerat oleh rasa bersalah.

Pelaku sering kali menggunakan strategi seperti love bombing, memberikan pujian berlebihan untuk membangun ketergantungan emosional. "Ketika korban mulai meragukan keseriusan pelaku, sering kali pelaku menanamkan rasa malu untuk menjaga agar korban tidak berbagi dengan orang lain," ujar Mellyana.

Strategi ini membuat korban terjebak dalam lingkaran fantasial tanpa mempertimbangkan kenyataan, sehingga mereka tetap terikat dengan pelaku meskipun sudah ada tanda-tanda penipuan.

Baca juga: Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin: Menjaga Kesehatan dan Kualitas Hidup

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU