Selasa, 20 JANUARI 2026 • 17:55 WIB

Krisis Sosial di Era Digital: Dampak FOMO pada Kehidupan Sehari-hari

Author

Krisis Sosial di Era Digital: Dampak FOMO pada Kehidupan Sehari-hari

Fenomena takut ketinggalan, sering disebut FOMO (Fear of Missing Out), semakin nyata dalam konteks interaksi sosial masyarakat Indonesia. Rasa tertekan untuk selalu mengikuti tren terbaru dan acara-acara populer kini menjadi hal umum di kalangan banyak individu.

Baca juga: Meningkatkan Produktivitas dengan Fengshui Meja Kerja

Media sosial berperan besar dalam menciptakan ketidakpuasan ini, di mana gambar, video, dan status dari teman-teman sering kali memicu perasaan kurang cukup berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Dampak Media Sosial terhadap Persepsi Sosial

Platform media sosial seperti Instagram dan TikTok telah mengubah cara orang berinteraksi. Setiap postingan glamor menjadi alasan bagi individu untuk merasa perlu bersaing dan menunjukkan eksistensi mereka.

Saat melihat teman-teman berkumpul di tempat menarik atau menghadiri event seru, dorongan untuk ikut serta menjadi sangat kuat. Hal ini sering kali mengakibatkan individu menghabiskan waktu dan uang secara tidak bijak demi tercapainya rasa keterhubungan.

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan perasaan kecemasan dan rendah diri, dengan banyak individu merasa tidak mampu bersaing dengan kehidupan orang lain yang tampak ideal. 'Mereka merasa tidak bisa bersaing dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna,' ungkap psikolog sosial, Dr. Rina.

Baca juga: Menu Sarapan Sehat untuk Petinju: Meningkatkan Performa Latihan

Ketergantungan Emosional terhadap Pengakuan Sosial

Rasa percaya diri seseorang seringkali terkait erat dengan banyaknya 'likes' atau komentar yang diterima pada unggahan mereka. Ini menunjukkan adanya ketergantungan emosional yang kuat terhadap validasi dari orang lain.

Bagi sebagian individu, ketidakmampuan mendapatkan tanggapan positif dapat menimbulkan perasaan tidak lengkap. 'Mungkin kita perlu merenungkan seberapa pentingnya validasi dari orang lain,' jelas Dr. Ahmad, seorang ahli kesehatan mental.

Studi menunjukkan bahwa interaksi antar individu semakin terasa dangkal, dengan komunikasi tatap muka yang berkurang demi interaksi digital yang tidak mendalam.

Mengatasi Ketakutan Ketinggalan

Untuk menghadapi tekanan FOMO, individu perlu menyadari dan mengatur ekspektasi terhadap pengalaman di media sosial. Mengurangi penggunaan platform ini dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan yang dirasakan.

Menemukan hobi baru atau berpartisipasi dalam komunitas lokal dapat memperbaiki kesehatan mental. 'Dengan lebih terlibat secara langsung, kita dapat menemukan makna yang lebih dalam dalam interaksi.'

Mengakui bahwa tidak semua pengalaman perlu diunggah adalah langkah penting. Kehidupan sebenarnya melibatkan pengalaman yang dirasakan, bukan hanya sekedar yang ditampilkan untuk orang lain.

Baca juga: Pesona Sepatu Putih: Item Fashion Wajib di Setiap Lemari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU