Santet, praktik mistis yang telah ada sejak lama, kini mengalami perubahan signifikan seiring dengan kemajuan teknologi. Pengaruh media sosial memberikan ruang baru bagi praktik yang dianggap menyeramkan ini.
Baca juga: Rekor Baru di Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool dan Aktivitas Klub Premier League
Banyak yang bertanya-tanya seberapa besar pengaruh teknologi terhadap cara penyebaran dan praktik santet di masyarakat Indonesia. Transformasi ini menciptakan tantangan dan dampak sosial yang kompleks bagi komunitas.
Santet Tradisional: Antara Mitos dan Kenyataan
Santet dalam tradisi Indonesia dikenal luas sebagai praktik yang melibatkan ilmu hitam dan energi negatif. Biasanya, para pelaku menggunakan benda-benda seperti jarum, sekepal garam, atau objek lainnya untuk menghantarkan niat buruk kepada target.
Guna-guna ini sering dianggap bersumber dari keinginan individu yang terluka atau sakit hati. Praktik ini diyakini dapat mengakibatkan berbagai masalah, mulai dari penyakit fisik hingga kesedihan mendalam.
Meskipun ada banyak skeptisisme, praktik ini tetap bertahan karena pengaruh budaya dan kepercayaan masyarakat yang kuat. Akibatnya, walaupun dalam konteks modern, praktik-praktik ini masih ada.
Baca juga: Destinasi Menakjubkan untuk Menyaksikan Sunset di Indonesia
Transisi ke Era Digital: Santet di Media Sosial
Dengan berkembangnya teknologi, santet tidak lagi terbatas hanya pada praktik di dunia nyata. Kini, media sosial menjadi platform baru untuk informasi dan diskusi seputar santet.
Grup-grup Facebook atau forum di media sosial sering digunakan untuk berbagi pengalaman dan memperingatkan satu sama lain tentang potensi santet. Hal ini memungkinkan individu saling membantu dengan tips untuk menghindari santet.
Beberapa orang bahkan mengklaim mampu melakukan santet secara virtual, hanya dengan menggunakan gambar atau nama target yang diunggah ke media sosial. Fenomena ini menciptakan gelombang baru dalam cara orang memandang praktik ini.
Implikasi dan Dampak di Masyarakat
Evolusi santet menjadi fenomena digital menghadirkan dampak sosial yang kompleks. Beberapa orang merasa lebih aman untuk berdiskusi tentang praktik ini di platform online, sementara yang lain merasa terancam oleh kemungkinan penyebaran informasi yang salah dan pencemaran nama baik.
Belum lama ini, seorang pengguna TikTok mengklaim bisa melakukan santet hanya dengan merekam video pendek. Hal ini menunjukkan tantangan baru muncul, baik untuk individu maupun komunitas.
Pembuatan konten yang viral sering kali menyebabkan ketakutan dan paranoia di kalangan masyarakat. Praktik-praktik seperti ini dapat memperburuk suasana sosial dan menciptakan ketidakpercayaan di antara anggota komunitas.
Baca juga: Ahmad Dhani Terlibat Ketegangan dalam Rapat Soal Royalti Lagu di DPR RI
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: