Rabu, 18 JUNI 2025 • 11:59 WIB

Kursi 11A: Keberuntungan atau Takdir dalam Dua Tragedi Penerbangan

Author

Generated by Journalist AI

styleguide.id – Kursi 11A kini mencuri perhatian publik setelah kecelakaan tragis pesawat Air India di Ahmedabad pada 12 Juni 2025, yang menyebabkan satu-satunya penyintas, Vishwashkumar Ramesh, teringat akan insiden serupa hampir tiga dekade lalu.

Kedua kejadian ini tidak hanya menyoroti nasib yang mengelilingi kursi tersebut, tetapi juga menimbulkan perhatian akan makna di balik keberuntungan dan pengalaman hidup yang bertaut.

Kecelakaan Air India dan Keberuntungan Ramesh

Pada siang hari yang menusuk di Ahmedabad, pesawat Air India mengalami kecelakaan yang merenggut banyak nyawa. Namun, Vishwashkumar Ramesh, seorang warga negara Britania berusia 40 tahun, berhasil selamat sebagai satu-satunya penumpang yang keluar dari pesawat yang menghantam area padat penduduk tersebut.

Menceritakan pengalaman dramatisnya, Ramesh menjelaskan, “Saya melepaskan sabuk pengaman, mendorong celah itu dengan kaki, dan merangkak keluar,” menggambarkan perjuangannya menghadapi situasi yang sangat berbahaya.

Letak kursinya di bagian depan kabin ekonomi, dekat pintu darurat, diyakini menjadi faktor yang mempengaruhi keselamatannya. Setelah mendapatkan perhatian media, berbagai spekulasi pun muncul tentang keberuntungan yang menyelimuti kursi 11A.

Tragedi Thai Airways Tahun 1998

Kisah kursi 11A tak lengkap tanpa menyinggung kecelakaan pesawat Thai Airways TG261 yang terjadi pada tahun 1998. Dalam insiden tersebut, dari 146 penumpang, 45 orang selamat, termasuk aktor Thailand Ruangsak ‘James’ Loychusak, yang juga duduk di kursi 11A.

Ruangsak, terperangah saat mengetahui Ramesh juga selamat di kursi yang sama, membagikan ungkapan kejutnya di media sosial. “Korban selamat dari kecelakaan pesawat di India. Ia duduk di kursi yang sama dengan saya, 11A,” tulisnya di Facebook.

Melihat kembali insiden tersebut, Ruangsak mengungkapkan ketakutannya untuk terbang lagi, merasakan bahwa hidupnya seolah diberi ‘kehidupan kedua’ setelah tragedi yang menyertai perjalanan itu.

Makna Emosional di Balik Kejadian

Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan tentang keberuntungan dan takdir. Dalam konteks yang lebih dalam, kedua penyintas dari negara yang berbeda menciptakan narasi emosional yang merujuk pada pengalaman yang sama, terpisah oleh hampir 30 tahun.

Ruangsak mengingat kejadian tersebut dengan penuh rasa trauma dan mengatakan, “Setiap melihat awan gelap, rasanya seperti kembali ke neraka.” Ini menunjukkan dampak mendalam dari pengalaman hidup yang sama saat kecelakaan.

Cerita Ramesh dan Ruangsak tidak hanya mengisahkan tentang keberuntungan, tetapi juga tentang ikatan manusia dan perjalanan menyelamatkan nyawa di tempat yang sama, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana keberuntungan berperan dalam hidup kita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
BERITA TERBARU