BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 22 AGUSTUS 2025 • 08:36 WIB

Generasi Z: Antara Optimisme dan Kekhawatiran di Era Kecerdasan Buatan

Generasi Z: Antara Optimisme dan Kekhawatiran di Era Kecerdasan BuatanGenerated by Journalist AI

styleguide.id – Generasi Z, yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, kini tengah bersiap memasuki dunia kerja yang dipenuhi dengan teknologi canggih, salah satunya adalah kecerdasan buatan (AI). Mereka merasa optimis namun sekaligus khawatir mengenai bagaimana dunia professional akan terbentuk dengan hadirnya teknologi ini.

Studi menunjukkan bahwa sekitar 70% anggota Generasi Z yakin bahwa teknologi, termasuk AI, akan merubah cara mereka bekerja. Meski demikian, ada juga keraguan yang menyelimuti mereka tentang potensi penggantian kerja oleh mesin dan algoritma.

Optimisme Generasi Z Terhadap AI

Dalam konteks perkembangan teknologi, Generasi Z dikenal sebagai digital natives yang tumbuh bersama kemajuan digital. Mereka percaya bahwa AI dapat membawa kemudahan dan meningkatkan efisiensi di tempat kerja.

Banyak di antara mereka yang berharap dengan adanya AI, mereka dapat lebih fokus pada pekerjaan yang bersifat kreatif dan inovatif. Misalnya, dalam analisis data, AI dapat membantu mereka untuk menemukan wawasan baru tanpa terjebak dalam tugas yang monoton.

Sebagian besar generasi ini berpendapat bahwa AI justru akan meningkatkan produktivitas mereka. “AI akan memberdayakan kita untuk melakukan lebih banyak hal, bukan membatasi kita,” ungkap Jessica Tan, Ketua Penyelidikan Kebijakan Digital.

Kekhawatiran Mengenai Pekerjaan di Era AI

Di balik rasa optimisme tersebut, terdapat kekhawatiran yang menghantui Generasi Z. Penelitian mengungkapkan bahwa lebih dari 60% dari mereka merasa terancam akan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi.

Tidak sedikit yang berpikir bahwa posisi pekerjaan yang mereka impikan saat ini bisa saja diambil alih oleh AI. Pekerjaan yang bersifat manual dan repetitif dianggap paling rawan terhadap penggantian teknologi.

“Kita harus waspada, tidak semua pekerjaan bisa digantikan oleh kecerdasan buatan,” kata Dr. Andi, seorang ahli pemasaran digital. Ia menekankan pentingnya kemampuan yang sulit ditiru oleh mesin, seperti kreativitas dan kecerdasan emosional.

Persiapan Generasi Z Menghadapi Masa Depan

Untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang ada, Generasi Z mulai berinvestasi dalam pendidikan dan pengembangan keterampilan baru. Mereka cenderung memilih mengikuti kursus online dan pelatihan untuk mendapatkan keterampilan yang relevan dengan tuntutan pasar kerja.

Generasi ini juga semakin mencari perusahaan yang memberikan ruang untuk inovasi dan pengembangan. Hasil survei menunjukkan bahwa 75% dari mereka lebih memilih bekerja di tempat yang mendukung inovasi ketimbang hanya mengejar keuntungan.

Kolaborasi antara manusia dan AI menjadi harapan bagi mereka. Banyak anggota Generasi Z percaya bahwa mereka dapat bekerja berdampingan dengan teknologi untuk meraih hasil yang lebih optimal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Generasi Z: Antara Optimisme dan Kekhawatiran di Era Kecerdasan Buatan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!