Jumat, 05 DESEMBER 2025 • 21:34 WIB

Fenomena 'Brain Rot' di Kalangan Generasi Z dan Solusinya

Author

Fenomena 'Brain Rot' di Kalangan Generasi Z dan Solusinya

Fenomena 'brain rot' kini semakin diperhatikan, terutama di kalangan Generasi Z yang tumbuh di era digital. Istilah ini merujuk pada penurunan fungsi mental akibat kebiasaan buruk menggunakan media sosial.

Baca juga: Menggali Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari

Generasi Z rata-rata menghabiskan lebih dari enam jam sehari untuk scrolling di platform seperti TikTok dan Instagram, yang memicu perhatian para ahli kesehatan mental.

Kondisi Otak dan Dampak Media Sosial

Paparan informasi yang cepat dan berlebihan dapat menurunkan daya ingat dan fungsi kognitif pada Generasi Z. Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan penurunan kemampuan berpikir kritis, sangat penting bagi usia muda.

Ahli saraf kognitif di MIT, Earl Miller, menyebutkan, 'Brain rot bukan berarti otak kita benar-benar membusuk. Masalahnya, otak kita tidak dirancang menghadapi arus informasi tanpa henti seperti ini.' Ini juga menunjukkan kebutuhan akan interaksi nyata yang lebih penting dari yang disadari banyak orang.

Sebuah studi oleh American Psychological Association menekankan bahwa kecanduan video pendek dapat menyebabkan 'penuaan otak dini' bagi individu berusia 18 hingga 29 tahun. Amanda Elton dari University of Florida menambahkan, istilah 'accelerated brain aging' lebih tepat merujuk pada kondisi ini.

Baca juga: Peluncuran Smartphone Terbaru Realme dengan Kapasitas Baterai Jumbo

Inisiatif untuk Mencegah 'Brain Rot'

Tren di kalangan Generasi Z untuk mengatasi dampak negatif dari konsumsi media sosial semakin beragam. Salah satu di antaranya adalah kurikulum bulanan yang diperkenalkan oleh content creator TikTok, Elizabeth Jean, berisi daftar bacaan dan kegiatan mendidik.

Selain itu, terdapat gerakan untuk 'lepas ponsel' saat di rumah. Tujuannya menciptakan ruang bagi kegiatan sosial yang lebih bermakna, sementara konsep 'dopamine menu' menawarkan alternatif positif untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa bergantung pada gadget.

Aplikasi seperti Brick dan Focus Friend semakin diminati sebagai langkah detoks digital. Penelitian menunjukkan bahwa pengguna yang mematikan media sosial selama dua minggu mengalami peningkatan fokus dan produktivitas.

Pentingnya Waktu Jauh dari Layar

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa interaksi sosial langsung sangat penting untuk mempertahankan fungsi otak yang kritis. Menghindari multitasking digital dapat membantu mencegah penurunan memori serta keterampilan pengambilan keputusan.

Kegiatan offline seperti bermain game, membaca, dan menulis jurnal telah terbukti meningkatkan kesehatan mental. Gary Small dari Hackensack Meridian School of Medicine menyatakan, 'Semakin cepat seseorang melindungi kesehatan otaknya, maka hasil baiknya dapat berjangka panjang.'

Generasi Z tidak hanya menunjukkan ketergantungan terhadap media digital, tetapi juga mulai menciptakan solusi inovatif untuk menjaga kesehatan otak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental dalam dunia yang serba digital adalah langkah yang sangat penting.

Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Reaksi Publik dan Diskursus Sosial

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU