Menghadapi Nyeri Dada: Pentingnya Penanganan Awal dan Kesadaran Gaya Hidup
Nyeri dada sering kali menjadi keluhan utama yang menandakan adanya masalah kesehatan, terkhusus terkait jantung. Tindakan cepat dan tepat sangat diperlukan untuk menghindari komplikasi yang lebih serius.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17
Dokter spesialis kardiovaskular, dr. Birry Karim, Sp.PD, KKV, menyarankan agar meminum aspirin menjadi langkah pertolongan pertama saat mengalami nyeri dada mendadak.
Nyeri dada dapat disebabkan oleh banyak faktor, sehingga penting untuk merespons gejala ini dengan cepat. Jika nyeri tidak diatasi dalam waktu 15 menit, dapat terjadi peningkatan intensitas dan membuat penderita berusaha mengurangi ketidaknyamanan dengan posisi tertentu, yang dikenal dengan istilah Levine sign.
Dalam seminar yang diselenggarakan di Rumah Sakit Medistra, dr. Birry menekankan, "Jika mendadak terjadi nyeri dada, pertolongan pertama bisa dengan meminum aspirin." Ini menjadi langkah awal yang penting sebelum mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.
Namun, apabila aspirin tidak tersedia, penting untuk segera menuju Unit Gawat Darurat (UGD). Menurut dr. Birry, hasil biopsi EKG harus siap dibaca agar dokter dapat merencanakan langkah-langkah pengobatan berikutnya.
Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Dihujat Soal Pilihan Politik
Dokter perlu melakukan evaluasi untuk memastikan apakah nyeri dada yang dialami pasien disebabkan oleh masalah jantung atau bukan. "Apakah dia cardiac chest pain atau non-cardiac chest pain? Apakah nyeri dada karena jantung atau bukan?" ungkap dr. Birry.
Kondisi non-jantung seperti asam lambung dan kontraksi otot juga dapat menyebabkan rasa nyeri di dada. Dalam beberapa situasi, mengangkat beban berat dapat memicu ketidaknyamanan ini.
Untuk memastikan diagnosis yang akurat, pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit menjadi sangat penting. Memahami penyebab nyeri dada akan membantu menentukan risiko yang dihadapi oleh pasien.
Serangan jantung yang selama ini dianggap sebagai masalah orang tua kini mulai bergeser ke populasi yang lebih muda. Dr. Birry menekankan, "Hampir 70 persen usia rata-rata pasien serangan jantung adalah orang relatif muda, yaitu usia 30-35 tahun."
Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa sekitar 800.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit kardiovaskular. Data yang dirilis oleh WHO menunjukkan bahwa penyakit ini menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia, termasuk stroke dan hipertensi.
Penting untuk menyadari bahwa 90 persen penyebab penyakit kardiovaskular berhubungan dengan gaya hidup, dan hanya 10 persen yang bersifat genetik. Oleh karena itu, adopsi gaya hidup yang lebih sehat sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko penyakit jantung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: