Narsisme sering kali diartikan salah sebagai sekadar rasa percaya diri dan ketertarikan terhadap perhatian orang lain. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa individu dengan kecenderungan narsistik memiliki sensitivitas emosional yang sangat tinggi terhadap penolakan sosial.
Baca juga: Polisi Selidiki Penjarahan di Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video
Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology menekankan bahwa ciri utama individu narsistik bukan hanya perasaan superiority, tetapi juga kerentanan emosional yang mengakibatkan mereka sering merasa terasing dari lingkungan sekitar.
Sensitivitas Berlebihan terhadap Pengucilan Sosial
Beberapa penelitian internasional dari negara seperti Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa individu yang memiliki sifat narsistik sering mengalami perasaan terasing. Sensitivitas terhadap pengucilan sosial menjadi ciri khas dari kepribadian ini.
Menurut laporan para peneliti, 'Orang dengan tingkat narsisme yang tinggi cenderung sangat peka dalam menangkap sinyal sosial, terutama yang berkaitan dengan status dan penerimaan.' Ini menandakan adanya ketidakpastian emosional yang mendalam meskipun garis besarnya tampak percaya diri.
Christiane Büttner, penulis utama studi, menambahkan, 'Temuan kami sangat mendukung bahwa individu narsistik melaporkan pengalaman pengucilan lebih sering, terutama mereka yang memiliki sisi antagonistik dan kompetitif yang kuat.'
Baca juga: Beware of Hidden Sugars in Your Favorite Foods
Kombinasi Keangkuhan dan Kerentanan Emosional
Tidak sekadar merasa superior, narsisme juga mengandung kerentanan emosional yang tinggi. Menurut sumber dari Psychiatry.org, gangguan kepribadian narsistik muncul dari pola perasaan unggul, kebutuhan akan pujian, dan kurangnya empati.
Sangat menarik bahwa walaupun narsisme berakar pada rasa grandiositas, individu dengan sifat ini juga mengalami sensitivitas emosional yang luar biasa. 'Meskipun narsisme berakar pada grandiositas, individu ini juga bisa mengalami sensitivitas emosional yang tinggi,' ungkap peneliti.
Sikap tidak mampu menerima penolakan dapat membuat rasa percaya diri tergerus menjadi perasaan tidak dihargai, yang pada gilirannya memperburuk sifat narsistik yang telah ada.
Dampak pada Kesehatan Mental dan Relasi Sosial
Lebih lanjut, narsisme berpotensi membawa dampak serius terhadap kesehatan mental individu. Christiane Büttner mencatat, 'Narsisme telah dikaitkan dengan kecemasan, depresi, dan bahkan perilaku melukai diri.'
Setiap pengalaman pengucilan dapat memicu rasa sakit emosional yang mendalam, dan menciptakan siklus negatif yang menyulitkan individu narsistik. Respons defensif terhadap pengucilan dapat makin memperkuat karakteristik narsistik yang ada.
Menghadapi individu narsistik diperlukan pendekatan yang empatik dan terstruktur, baik dalam situasi kerja maupun sosial. 'Menangani dinamika ini secara terarah dapat membantu mengurangi dampak negatif pengucilan,' tambah Büttner.
Baca juga: Fenomena Film KPop Demon Hunters di Netflix
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: