Senin, 09 FEBRUARI 2026 • 19:28 WIB

54 Juta Warga Miskin Belum Terdaftar di BPJS Kesehatan: Data yang Mengkhawatirkan

Author

54 Juta Warga Miskin Belum Terdaftar di BPJS Kesehatan: Data yang Mengkhawatirkan

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, mengungkapkan ada 54 juta orang miskin yang tidak terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) sepanjang tahun 2025.

Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Tetap Bugar Di Rumah

Sementara itu, 15 juta orang dari kalangan menengah atas justru tercatat sebagai penerima BPJS PBI, menunjukkan adanya ketidaktepatan data di Kementerian Sosial.

Situasi Terkini Kepesertaan BPJS Kesehatan

Dalam penjelasannya di rapat konsultasi yang berlangsung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Gus Ipul mengatakan, "Berdasarkan DTKS, masih ada penduduk Desil 1 dan 5 yang belum menerima PBI JK (Jaminan Kesehatan)." Ini menunjukkan adanya masalah pengkategorian dalam data yang dimiliki oleh Kemensos.

Dia menjelaskan bahwa 54 juta jiwa dari Desil 1 hingga 5 seharusnya mendapatkan bantuan kesehatan, namun tidak tercover, sementara 15 juta orang dari Desil 6 hingga 10 tercatat sebagai penerima bantuan.

"Dengan melihat data tersebut, maka orang mampu malah terlindungi oleh BPJS PBI, tapi yang rentan justru menunggu," jelasnya.

Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word

Kebutuhan Verifikasi Data yang Lebih Akurat

Gus Ipul menekankan perlunya verifikasi lebih mendalam terhadap data penerima bantuan kesehatan. "Kita masih perlu melakukan kroscek lebih luas lagi," ungkapnya.

Dia juga menambahkan bahwa di tahun 2025, kroscek hanya dilakukan terhadap 12 juta kepala keluarga, padahal seharusnya lebih dari 35 juta kepala keluarga untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.

Dengan data yang valid dan akurat, program bantuan akan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.

Pengurangan Kesalahan Dalam Pemberian PBI

Pemerintah telah mengambil langkah untuk mengurangi kesalahan penetapan bantuan melalui pengalihan secara bertahap dari Mei 2025 hingga Januari 2026. Hal ini diharapkan dapat menurunkan tingkat exclusion error dan inclusion error.

"Exclusion error adalah orang yang seharusnya mendapatkan PBI tapi tidak mendapatkan PBI, sementara inclusion error adalah orang yang seharusnya tidak mendapatkan PBI malah justru mendapatkan PBI," jelas Gus Ipul.

Dia menambahkan bahwa jika berpedoman pada desil, kesalahan dalam data semakin kecil, meskipun masih ada kendala dengan mereka yang harusnya tercover oleh PBI JK, seperti 6.000 penderita penyakit katastropik.

Baca juga: Menciptakan Kamar Tidur Nyaman untuk Tidur Berkualitas dengan Fengshui

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU