Seorang wanita di Bangladesh telah meninggal akibat infeksi virus Nipah, memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Asia. WHO kini melaporkan bahwa upaya meningkatkan pemantauan di bandara telah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang mematikan ini.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perlakuan Istimewa Selebritas di DPR
Kasus ini menjadi perhatian khusus ketika 35 orang yang memiliki kontak langsung dengan pasien saat ini dalam tahap pemantauan. Dalam menghadapi potensi wabah lebih luas, sejumlah negara tetangga memperketat langkah pencegahan di titik masuk internasional mereka.
Kasus Virus Nipah di Bangladesh
Wanita yang menjadi kasus Covid-19 ini mengalami gejala serius mulai 21 Januari dan meninggal dunia kurang dari seminggu kemudian. Menurut laporan WHO, ia menunjukkan berbagai gejala khas seperti demam, sakit kepala, dan gejala neurologis.
Terlepas dari tidak adanya riwayat perjalanan luar negeri, penyelidikan menunjukkan bahwa ia mengonsumsi getah pohon kurma mentah sebelum terinfeksi. Setelah kematiannya, hasil tes memverifikasi bahwa ia positif terinfeksi virus Nipah.
Kematian ini menimbulkan perhatian global mengingat tingkat mobilitas penduduk di negara-negara Asia yang tinggi, khususnya di daerah dekat Bangladesh.
Baca juga: Patung Superhero Milik Anggota DPR Ini Jadi Korban Penjarahan
Tindakan Negara-Negara Asia
Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan Pakistan kini telah mengambil langkah proaktif dengan meningkatkan pemeriksaan suhu di bandara mereka. Contohnya, di Singapura, pekerja migran yang tiba dari wilayah Benggala Barat diwajibkan menjalani pemeriksaan suhu harian dan memantau gejala selama dua minggu.
Langkah-langkah ini dirancang untuk mencegah potensi penyebaran yang lebih luas meski, menurut otoritas kesehatan, risiko penularan antarmanusia secara umum terbilang rendah. Pencegahan yang dilakukan dianggap krusial untuk menjaga kesehatan masyarakat.
Sejalan dengan itu, pihak berwenang menegaskan pentingnya kesadaran akan gejala dan langkah-langkah pencegahan di tempat-tempat berpotensi tinggi.
Karakteristik Virus Nipah
Virus Nipah merupakan patogen berisiko tinggi, dengan angka kematian mencapai 75 persen pada kasus infeksi. WHO menggarisbawahi bahwa hingga kini belum tersedia vaksin atau pengobatan yang efektif untuk virus tersebut.
Infeksi sering kali terkait dengan kontak langsung dengan kelelawar atau konsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Dalam banyak kasus, individu yang selamat dari infeksi dapat mengalami efek jangka panjang seperti kejang dan perubahan perilaku, kompleksitas yang membuat penanganan kasus semakin menantang.
Adanya peningkatan kesadaran di dunia internasional menjadi semakin relevan untuk mengatasi dan memitigasi risiko penyebaran infeksi ini.
Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: