Rabu, 24 DESEMBER 2025 • 10:40 WIB

Mengapa Kita Sulit Menghentikan Kebiasaan Mengemil

Author

Mengapa Kita Sulit Menghentikan Kebiasaan Mengemil

Sebagian besar orang pernah mengalami kesulitan untuk berhenti mengemil, meski sudah merasa kenyang. Apa yang dapat menjelaskan fenomena ini yang banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari?

Baca juga: Desta Sebarkan Tuntutan 17+8 Setelah Dihujat Soal Pilihan Politik

Sejumlah faktor berkontribusi dalam menciptakan kebiasaan sulit berhenti saat mengemil. Pemahaman yang lebih baik akan faktor-faktor ini dapat membantu kita mengelola pola konsumsi makanan.

Daya Tarik Rasa dan Tekstur

Snack hadir dengan beragam rasa yang menggiurkan, mulai dari manis, asin, hingga pedas. Kombinasi rasa ini dapat memicu pusat kesenangan di otak, mendorong keinginan untuk terus mengunyah.

Tekstur makanan juga menjadi faktor penentu; makanan yang renyah atau creamy memberikan sensasi yang menyenangkan saat dikonsumsi. Hal ini membuat kita merasa lebih sulit untuk berhenti meskipun sudah cukup.

Sebagaimana diindikasikan oleh penelitian, rasa enak dapat melepaskan dopamine, neurotransmitter yang memberikan rasa nyaman. Akibatnya, kita cenderung mengonsumsi lebih banyak meskipun perut sudah merasa kenyang.

Baca juga: Polisi Selidiki Penjarahan di Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video

Kondisi Emosional dan Lingkungan

Kondisi emosional berperan penting dalam meningkatnya keinginan untuk ngemil. Dalam keadaan stres, cemas, atau bosan, banyak orang memilih snack sebagai pelarian yang instan dan mudah.

Lingkungan juga mempengaruhi perilaku mengemil. Ketika berkumpul dengan teman atau menonton film, snack sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman tersebut.

Menikmati camilan sering kali menjadi sebuah ritual. Dengan konteks sosial yang menyertainya, kita seringkali tidak menyadari berapa banyak yang sudah kita konsumsi.

Kebiasaan dan Asosiasi

Kebiasaan ngemil biasanya terbentuk seiring waktu. Kegiatan rutin seperti menonton TV sering kali dikaitkan dengan konsumsi snack, menciptakan asosiasi yang kuat dalam perilaku makan.

Asosiasi ini mempengaruhi keinginan kita untuk terus mengonsumsi snack, karena kita merasa ada yang kurang jika tidak melakukannya saat aktivitas tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini dapat memengaruhi sinyal kenyang dalam tubuh, membuat kita terjebak dalam pola yang sama.

Baca juga: Pilihan Olahraga Low Impact untuk Pemula

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU