Pemerintah China mengumumkan kenaikan harga alat kontrasepsi, termasuk kondom, sebesar 13 persen mulai 1 Januari 2026. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan angka kelahiran di negara tersebut.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perlakuan Istimewa Selebritas di DPR
Kenaikan harga ini diusulkan setelah penghapusan status bebas Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk produk kontrasepsi, yang sebelumnya berlaku selama hampir tiga dekade.
Kebijakan Baru untuk Mendorong Kelahiran
Kenaikan harga alat kontrasepsi merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk merangsang angka kelahiran di tengah krisis demografi. Dengan kebijakan ini, diharapkan masyarakat akan merasa terstimulasi untuk memiliki lebih banyak anak.
Penghapusan PPN pada alat kontrasepsi sudah berlaku selama hampir tiga dekade, dan dengan langkah ini, pemerintah berharap menjadikan biaya tinggi alat tersebut sebagai motivasi positif.
Baca juga: Polisi Selidiki Penjarahan di Rumah Eko Patrio Setelah Kontroversi Video
Data Demografi Menunjukkan Krisis Kelahiran
Angka kelahiran di China diperkirakan hanya mencapai 6,77 kelahiran per 1.000 penduduk pada tahun 2024. Laporan dari Bank Dunia mengungkapkan bahwa tingkat kesuburan masyarakat China berada di angka 1,0 pada tahun 2023.
Angka ini jauh di bawah tingkat ideal 2,1 yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas populasi. Fenomena ini menunjukkan ancaman serius terhadap keseimbangan demografis negara.
Tanggapan Terhadap Kebijakan
Kebijakan kenaikan harga ini mendapatkan beragam tanggapan, terutama dari pihak-pihak yang khawatir akan dampaknya. Beberapa kritik menyebutkan bahwa kenaikan harga alat kontrasepsi berpotensi meningkatkan risiko penyakit menular seksual di masyarakat.
Di sisi lain, pengamat menilai bahwa kebijakan ini tidak menyentuh faktor-faktor utama yang menyebabkan rendahnya angka kelahiran, seperti tingginya biaya hidup dan pengeluaran untuk membesarkan anak.
Baca juga: Menunjukkan Cinta Tanpa Kata: Cara Sederhana untuk Membahagiakan Pasangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: