Kamis, 04 DESEMBER 2025 • 15:20 WIB

Risiko Kebiasaan Makan Sendirian pada Lansia: Dampak Kesehatan Fisik dan Mental

Author

Risiko Kebiasaan Makan Sendirian pada Lansia: Dampak Kesehatan Fisik dan Mental

Kebiasaan makan sendirian yang semakin meningkat di kalangan berbagai usia menjadi perhatian serius untuk kesehatan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa frekuensi makan sendirian dapat memicu risiko kesehatan yang signifikan, terutama bagi individu lansia.

Baca juga: Mencari Kebahagiaan dalam Hal-Hal Kecil

Tim peneliti dari Flinders University, Australia, menganalisis dua dekade informasi terkait kebiasaan makan dan menemukan bahwa lansia yang sering makan sendiri memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi fisik yang melemah.

Risiko Kesehatan Pada Lansia yang Makan Sendiri

Lansia yang terbiasa makan sendiri cenderung mengalami penurunan kualitas pola makan. Mereka sering mengonsumsi makanan yang kurang bergizi, dengan penurunan asupan protein dari 58 gram menjadi 51 gram per hari, yang berdampak negatif pada kesehatan fisik.

Penurunan asupan nutrisi ini memicu hilangnya massa otot dan melemahnya kekuatan tubuh. Akibatnya, risiko ketergantungan pada orang lain meningkat secara signifikan.

Studi tersebut juga mencatat bahwa kebiasaan makan sendiri membuat lansia lebih cenderung memilih makanan siap saji. Di Swedia, mereka yang makan sendiri tercatat mengonsumsi makanan siap saji empat kali lebih banyak dibanding yang makan bersama, yang seringkali tinggi garam dan gula.

Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Reaksi Publik dan Diskursus Sosial

Dampak Psikologis dari Makan Sendiri

Kebiasaan makan sendiri tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik, tetapi juga memiliki dampak psikologis yang signifikan. Hilangnya rutinitas sosial saat makan mengurangi motivasi untuk memilih makanan yang lebih sehat.

Peneliti menekankan bahwa aspek sosial dalam kebiasaan makan sangat penting untuk mendorong pola makan yang baik. Makan sendirian membawa beban psikologis tersendiri dan menghilangkan isyarat sosial yang mendorong seseorang untuk makan lebih banyak serta memilih makanan yang lebih bernutrisi.

Pencegahan dan Saran untuk Meningkatkan Pola Makan

Frailty merupakan sindrom yang menunjukkan menurunnya kekuatan dan kemampuan tubuh untuk pulih dari tekanan. Kondisi ini berhubungan erat dengan peningkatan risiko jatuh, disabilitas, dan hilangnya kemandirian.

Para ahli merekomendasikan agar dokter dan tenaga medis mulai memperhatikan kebiasaan makan pasien lansia selama pemeriksaan rutin. Selain itu, keluarga diharapkan lebih aktif mengajak anggota untuk makan bersama.

Makan bersama tidak hanya bermanfaat bagi lansia, tetapi juga semua kelompok umur. Interaksi sosial saat makan dianggap sebagai langkah sederhana yang menawarkan manfaat besar bagi kesehatan.

Baca juga: Pengembalian Jam Tangan Mewah Ahmad Sahroni Setelah Penjarahan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU