Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja mengembangkan teknologi deteksi cepat yang berpotensi mengubah cara skrining Tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Baca juga: Menggali Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari
Teknologi ini, yang dikenal sebagai Tuberculosis Colorimetric Sensor, memanfaatkan perubahan warna untuk mengidentifikasi adanya bakteri penyebab TBC.
Tantangan TBC di Indonesia
Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu tantangan kesehatan paling serius di Indonesia, di mana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat negara ini sebagai salah satu yang memiliki beban TBC tertinggi di dunia.
Dengan tingginya angka kasus TBC yang resistan terhadap obat dan infeksi HIV yang saling terkait, diperlukan strategi deteksi dini yang lebih efisien untuk menanganinya.
Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Reaksi Publik dan Diskursus Sosial
Inovasi Sensor Deteksi TBC
Ni Luh Wulan Septiani, seorang peneliti dari Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, memainkan peran kunci dalam pengembangan sensor deteksi cepat itu sejak tahun 2024.
Sistem yang dikembangkan ini dapat menunjukkan perubahan warna saat biomarker bakteri Mycobacterium tuberculosis terdeteksi, menawarkan pendekatan yang praktis dalam proses skrining.
Metode Deteksi yang Ada dan Keterbatasannya
Prosedur standar yang ada saat ini mengandalkan uji kultur bakteri yang meskipun akurat, memerlukan waktu lama untuk hasil.
WHO merekomendasikan metode deteksi cepat berbasis molekuler yang dapat membaca DNA Mycobacterium tuberculosis dalam waktu dua jam, namun metode ini masih dianggap lambat dan memerlukan reagen yang mahal.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: