Di tengah semangat positif yang terus berkembang, muncul fenomena yang kerap terabaikan: toxic positivity. Ungkapan seperti 'Semangat terus!' bisa berbahaya ketika dihadapkan pada situasi yang justru memerlukan pengakuan atas emosi negatif.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Terbaru untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Baik
Masyarakat sering terjebak dalam pola pikir positif, padahal banyak masalah tidak dapat diselesaikan hanya dengan motivasi. Mengabaikan perasaan dapat merusak kesehatan mental tanpa disadari.
Pengertian Toxic Positivity
Toxic positivity merujuk pada sikap memaksakan diri untuk selalu memiliki pandangan positif, walaupun situasi tidak mendukung. Meskipun biasanya dimotivasi oleh niat baik, hal ini dapat berdampak negatif bagi individu yang sedang mengalami kesusahan.
Contohnya, saat seseorang mengalami kehilangan, ungkapan seperti 'Ada hikmahnya' dapat terdengar menguatkan, namun sebenarnya bisa menyakiti perasaan orang tersebut. Mengalihkan fokus pada sisi positif justru membuat perasaan duka dan kesedihan terabaikan.
Para psikolog menjelaskan bahwa sikap ini mengabaikan validitas emosi negatif. Emosi, baik positif maupun negatif, memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan mental seseorang.
Baca juga: Uya Kuya Hadapi Penjarahan Rumah Setelah Viral Video Joget Anggota DPR RI
Dampak Negatif Toxic Positivity
Dampak dari toxic positivity sangat beragam, mulai dari masalah kesehatan mental hingga kerentanan dalam hubungan interpersonal. Ketika didorong untuk selalu merasa positif, banyak individu cenderung menekan emosi tidak menyenangkan.
Menekan emosi negatif menyebabkan seseorang merasa terasing dan sulit terhubung dengan orang lain. Hal ini sering berbuntut pada perasaan kesepian dan ketidakpahaman, yang pada akhirnya memperburuk kondisi mental individu.
Dalam konteks sosial, masyarakat dapat mengembangkan pandangan sempit tentang kesehatan mental yang baik. Ketika emosi negatif dianggap tabu, individu merasa tertekan untuk selalu tampak baik di depan orang lain.
Menciptakan Ruang untuk Emosi
Sangat penting untuk menciptakan ruang bagi diri sendiri dan orang lain untuk mengekspresikan perasaan. Mengakui perasaan negatif adalah langkah awal untuk memproses dan mengatasi masalah yang dihadapi.
Mendengarkan secara aktif tanpa menghakimi serta memberikan dukungan emosional dapat memperkuat hubungan antarindividu. Alih-alih mengekspresikan kalimat positif, lebih baik mengajak orang lain untuk berbagi cerita dan pengalaman.
Dari perspektif kesehatan mental, menyadari dan menerima semua bentuk emosi dapat membantu individu menjadi lebih tangguh. Ini juga menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi pertumbuhan emosional.
Baca juga: Penjarahan Rumah Uya Kuya: Reaksi Publik dan Diskursus Sosial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: