Minggu, 19 OKTOBER 2025 • 09:56 WIB

Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta: Ancaman Serius untuk Kesehatan

Author

Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta: Ancaman Serius untuk Kesehatan

Temuan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa mikroplastik berbahaya terdeteksi dalam air hujan di Jakarta.

Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17

Hal ini menjadi peringatan serius terkait polusi plastik yang mencemari atmosfer dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

Asal Usul Mikroplastik dalam Air Hujan

Mikroplastik yang terdeteksi dalam air hujan di Jakarta berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan, sisa pembakaran sampah plastik, dan degradasi plastik di lingkungan terbuka.

Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, menyatakan bahwa partikel-partikel ini terbentuk akibat aktivitas manusia sehari-hari.

“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” ujar Reza, menggambarkan kontribusi polusi plastik di kota besar.

Mikroplastik terdeteksi dalam bentuk serat sintetik dan fragmen kecil plastik, terutama dari bahan polimer seperti poliester, nilon, dan polipropilena yang bersumber dari ban kendaraan.

Dampak Kesehatan Mikroplastik

Mikroplastik bisa terangkat ke udara melalui debu dan asap dari pembakaran, lalu akan terbawa angin sebelum jatuh kembali dalam bentuk hujan.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Terbaru untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Baik

Proses ini, dikenal sebagai atmospheric microplastic deposition, menegaskan bahwa siklus plastik tidak berhenti di laut.

“Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” jelas Reza, yang mengindikasikan perlunya kesadaran lebih lanjut mengenai polusi plastik.

Partikel mikroplastik berukuran sangat kecil dapat terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan. Meskipun air hujan bukan sumber utama racun, partikel ini mengandung bahan kimia berbahaya dan dapat mengikat polutan lain.

Respons Lingkungan dan Upaya Penanganan

Menanggapi temuan ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berkoordinasi dengan BRIN untuk menangani isu mikroplastik.

Kepala DLH, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa polusi plastik perlu direspon secara kolaboratif dan cepat, mengingat implikasinya yang telah mencapai atmosfer.

“Kami memandang temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan yang perlu direspons cepat dan kolaboratif. Polusi plastik kini bukan hanya urusan laut atau sungai, tetapi sudah sampai di langit Jakarta,” ungkap Asep.

DLH DKI Jakarta tengah memperkuat program untuk mengendalikan sampah plastik, termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan. Edukasi publik juga dianggap penting untuk mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan kesadaran pengelolaan limbah.

Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU