BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Selasa, 03 MARET 2026 • 22:30 WIB

Tantangan Edukasi Masyarakat dalam Mengatasi Peningkatan Obesitas di Indonesia

Tantangan Edukasi Masyarakat dalam Mengatasi Peningkatan Obesitas di IndonesiaTantangan Edukasi Masyarakat dalam Mengatasi Peningkatan Obesitas di Indonesia

Hari Obesitas Sedunia yang diperingati setiap 4 Maret menyoroti meningkatnya fenomena obesitas di Indonesia. Hal ini memunculkan tantangan besar dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pola hidup sehat.

Baca juga: Menggali Pentingnya Self Love dalam Kehidupan Sehari-hari

Prevalensi obesitas di kalangan penduduk dewasa di Indonesia telah meningkat dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Penyakit tidak menular, termasuk obesitas, kini menjadi salah satu beban kesehatan terbesar di negara ini.

Peningkatan Prevalensi Obesitas

Berdasarkan data terbaru, prevalensi obesitas di kalangan penduduk berusia 18 tahun ke atas mengalami kenaikan signifikan dalam lima tahun terakhir. Kenaikan ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk pola makan tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik.

Dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan RI, menyatakan bahwa tren peningkatan penyakit tidak menular telah terlihat selama tiga dekade. "Saat dilakukan intervensi meningkat dan biaya BPJS Kesehatan paling besar itu penyakit tidak menular," ujarnya.

Obesitas umumnya diakibatkan oleh konsumsi kalori berlebihan dalam jangka panjang, yang berasal dari jenis makanan olahan dan siap saji. Praktik ini perlu diubah guna menekan laju peningkatan angka obesitas di masyarakat.

Kampanye Edukasi dan Program Preventif

Menyonsong Hari Obesitas Sedunia, Nutrifood bersama Kementerian Kesehatan RI meluncurkan kampanye #BatasiGGL yang mendorong masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih pangan olahan. Kampanye ini menyasar pentingnya mengurangi asupan gula, garam, dan lemak demi kesehatan yang optimal.

Baca juga: Realme Luncurkan Smartphone Dengan Baterai 15.000 mAh dan Chill Fan Phone

"Label batasi GGL ini penting dilakukan dan obesitas umumnya bukan terjadi saat ini, karena ada sebuah proses dan gaya hidup kita," ujar Dr. Siti Nadia dalam keterangan persnya. Dia menggarisbawahi bahwa pemahaman masyarakat tentang label kemasan pangan sangat krusial.

Kegiatan edukasi semacam ini telah dilakukan sejak tahun 2013 dan bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai kebiasaan konsumsi makanan. Dengan informasi yang cukup, masyarakat diharapkan dapat mengontrol asupan nutrisi mereka.

Peran Teknologi dan Edukasi Masyarakat

Di tengah maraknya pangan olahan, penting bagi konsumen untuk memperhatikan informasi pada label kemasan. Susana S.T.P., M.Sc, PD.Eng, Head of Strategic Marketing Nutrifood, menjelaskan bahwa berbagai informasi, seperti takaran saji dan energi total, dapat membantu konsumen mengontrol asupan gizi.

"Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya," tuturnya. Ini adalah langkah awal menuju gaya hidup sehat.

Dr. Puspo Edi Giriwono, Direktur SEAFAST Center IPB, menambahkan bahwa teknologi pangan modern hadir untuk menjamin keamanan dan kualitas produk. Namun, tantangan terletak pada kesadaran masyarakat untuk memahami proses pengolahan dan bahan-bahan yang digunakan.

"Edukasi publik menjadi kunci penting untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses pangan," ujar Puspo, menekankan betapa pentingnya pemahaman di kalangan masyarakat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Tantangan Edukasi Masyarakat dalam Mengatasi Peningkatan Obesitas di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!