BRIN Mengklarifikasi Fenomena Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Bukan Sinkhole
Fenomena lubang tanah raksasa di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, telah menarik perhatian masyarakat luas. Luas lubang ini mencapai 27 ribu meter persegi dan diidentifikasi bukan sebagai sinkhole, melainkan akibat longsoran tanah.
Baca juga: Tantangan Workout 30 Hari Tanpa Alat: Tetap Bugar Di Rumah
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari, menjelaskan bahwa penyebab utama adalah kondisi geologis yang rentan, bukan hanya faktor cuaca.
BRIN telah mengemukakan bahwa lubang besar di Aceh Tengah muncul pada area yang tidak memiliki batu gamping, yang biasanya menjadi penyebab sinkhole. Sebagai gantinya, daerah ini didominasi oleh material tufa yang berasal dari Gunung Geurendong yang sudah tidak aktif.
Menurut Adrin Tohari, "Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh." Penelitian awal menunjukkan bahwa pola erosi dan longsor telah berlangsung lama.
Data dari citra satelit Google Earth menunjukkan adanya lembah kecil yang semakin melebar sejak 2010 akibat proses erosi yang berlangsung. Saat hujan lebat, proses ini dapat memperbesar lubang tersebut.
Baca juga: Beware of Hidden Sugars in Your Favorite Foods
Adrin juga menjelaskan bahwa gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi pada 2013 memperburuk kondisi lereng. "Gempa bumi itu diperkirakan memperlemah struktur lereng dan memicu ketidakstabilan yang semakin besar," ujarnya.
Hujan lebat menjadi faktor lain yang memperburuk keadaan tanah. Adrin menambahkan, "Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh air, sehingga lapisan tanah kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh."
Kondisi ini diperparah dengan adanya saluran irigasi perkebunan yang dapat meningkatkan kelembaban tanah, sehingga memperbesar risiko runtuh.
BRIN saat ini masih menganalisis data dari citra satelit dan informasi publik untuk memahami fenomena ini lebih baik. Adrin menggarisbawahi pentingnya melakukan penelitian lebih mendalam untuk memastikan penyebab dan dampak dari fenomena tersebut.
"Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif," tambah Adrin.
Dia juga merekomendasikan untuk memperbarui peta kerentanan gerakan tanah setelah kejadian ini. "Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari," ujarnya.
Baca juga: Pesona Sepatu Putih: Item Fashion Wajib di Setiap Lemari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: