BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Jumat, 13 FEBRUARI 2026 • 15:41 WIB

Pakar Menyoroti Dampak Krisis Iklim Terhadap Hujan Ekstrem di Indonesia

Pakar Menyoroti Dampak Krisis Iklim Terhadap Hujan Ekstrem di IndonesiaPakar Menyoroti Dampak Krisis Iklim Terhadap Hujan Ekstrem di Indonesia

Hujan ekstrem dan kemunculan siklon tropis semakin sering terjadi di Indonesia, dan ini tidak lepas dari pengaruh krisis iklim global.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa perubahan iklim berkontribusi besar terhadap bencana hidrometeorologi di Tanah Air.

Peningkatan Intensitas Hujan dan Siklon Tropis

Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama di BRIN, menyatakan bahwa hujan berintensitas tinggi menjadi konsekuensi langsung dari krisis iklim. 'Global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer,' tegas Eddy, dengan menyoroti ancaman siklon tropis yang kini menjangkiti berbagai wilayah di Indonesia.

Contoh nyata termasuk siklon tropis Seroja, Cempaka, dan Dahlia yang memberikan dampak merugikan, terutama di Jakarta dan pantai utara Jawa. Hujan ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat seringkali dipicu oleh gelombang atmosfer ekuatorial, sedangkan hujan berkepanjangan lebih dipengaruhi oleh fenomena iklim besar seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD).

'Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer,' jelas Eddy, yang menunjukkan bahwa fenomena besar tersebut berperan signifikan dalam pola curah hujan yang tidak biasa.

Baca juga: Menu Sarapan Sehat untuk Petinju: Meningkatkan Performa Latihan

Pengaruh Geografis dan Angin

Indonesia terletak di jalur Asian Monsoon yang mendukung masuknya uap air dari Asia ke Jakarta, yang memiliki karakteristik dataran aluvial dan pantai landai. 'Kondisi ini memicu terbentuknya pusat tekanan rendah,' kata Eddy, menjelaskan bagaimana faktor lokal memperburuk situasi hujan ekstrem.

Pusaran atmosfer terbentuk akibat pertemuan angin baratan dan timuran, yang menciptakan hujan lebat yang terpusat dalam satu kawasan dalam waktu lama. Konsekuensi dalam lapisan atmosfer ini mengurangi daya dukung lingkungan.

Jakarta semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi, di mana kombinasi hujan deras dan lanskap urban yang kurang mampu menyerap air menjadi masalah utama.

Upaya Mitigasi dan Saran Kebijakan

Eddy menekankan pentingnya transformasi sistem peringatan dini untuk bencana hidrometeorologi. 'Pendekatan konvensional tidak lagi memadai,' ujarnya, menyoroti perlunya pemanfaatan teknologi terbaru seperti AI, big data, dan machine learning untuk meningkatkan akurasi dalam prediksi cuaca.

Investigasi yang dilakukan oleh BRIN diharapkan dapat mendukung mitigasi bencana dan membantu merumuskan kebijakan yang lebih berbasis sains. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan manajemen risiko hidrometeorologi yang sedang dihadapi.

Sebagai catatan, Eddy juga menekankan bahwa banjir tidak hanya disebabkan oleh hujan deras; perubahan tutupan lahan yang mengurangi daya resap air turut berkontribusi. 'Lanskap perkotaan Jakarta belum sepenuhnya siap menghadapi beban dari fenomena hidrometeorologi ekstrem,' pungkasnya.

Baca juga: Ahmad Dhani Terlibat Ketegangan dalam Rapat Soal Royalti Lagu di DPR RI

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Pakar Menyoroti Dampak Krisis Iklim Terhadap Hujan Ekstrem di Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!