74 Kasus Baru Influenza A(H3N2) Teridentifikasi di Indonesia, Simak Gejalanya
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia baru saja mengonfirmasi 74 kasus baru subclade K dari influenza A(H3N2) setelah memeriksa 204 spesimen dalam periode 1 hingga 10 Januari 2026.
Baca juga: Pentingnya Merawat Kesehatan Mental di Kalangan Generasi Muda
Kasus ini mayoritas terjadi di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, dengan puncak insiden dilaporkan pada minggu ke-40 tahun 2025.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Prima Yosephine, menginformasikan bahwa setelah periode puncaknya pada minggu ke-40, kasus dari subclade K menunjukkan tren penurunan yang signifikan.
Ia menambahkan, tidak ada penambahan kasus baru yang terdeteksi sejak minggu ke-52 tahun lalu, dengan mayoritas pasien mengalami gejala yang tergolong ringan hingga sedang.
Namun, kelompok rentan seperti lansia dan mereka dengan komorbiditas tetap menjadi perhatian utama, karena lebih mungkin menghadapi kondisi yang lebih serius akibat virus ini.
Baca juga: Kecerdasan Buatan Membuka Era Baru dalam Perawatan Keguguran
Dr. Nastiti Kaswandani, dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa gejala yang muncul akibat subclade K ini mirip dengan gejala influenza A umumnya.
Gejala yang sering dilaporkan mencakup demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri tenggorokan, serta masalah pernapasan yang dapat terjadi.
Penting untuk dicatat bahwa keberadaan kondisi ini tidak mudah didiagnosis hanya melalui pemeriksaan visual, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut untuk memastikan diagnosis yang tepat.
Menyusul meningkatnya kasus, tenaga medis dan dokter disarankan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya influenza, terutama di antara kelompok yang berisiko tinggi.
Masyarakat juga diimbau untuk tetap menjaga kesehatan dan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku sebagai langkah pencegahan dalam menghindari penularan virus.
Kesadaran akan virus H3N2 sebagai salah satu penyebab utama influenza musiman menjadi sangat penting untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan publik.
Baca juga: Aksi Pria Berjaket Ojol Viral di Atas Kereta KRL di Stasiun Cikini
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: