Curah Hujan Tinggi Menghantam Jabodetabek, Apa Sebabnya?
Hujan deras menyelimuti kawasan Jabodetabek pada Kamis, 22 Januari 2026, menyebabkan genangan air di sejumlah titik. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa curah hujan kali ini kemungkinan besar berasal dari laut.
Baca juga: Patung Superhero Milik Anggota DPR Ini Jadi Korban Penjarahan
Erma Yulihastin, peneliti BRIN, mencermati fenomena ini dan menegaskan perlunya perhatian terhadap sistem pembentukan hujan yang terjadi di lautan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengeluarkan peringatan terkait potensi hujan lebat dalam beberapa hari ke depan.
Erma Yulihastin dari BRIN menjelaskan, 'Mudah saja niteni-nya (mengamatinya), kalau pagi-pagi sudah hujan dan deras bukan gerimis, itu artinya hujan yang terjadi berasal dari laut bukan darat.' Hal ini menjadi indikasi bahwa pola cuaca saat ini beragam dan mungkin berbeda dari yang biasa terjadi.
Ia menambahkan, 'Jadi mesti curiga, ada apa di laut kok bisa kirim hujan ke darat?' Poin ini menyoroti pentingnya pengamatan lebih lanjut terhadap kondisi laut dan dampaknya terhadap cuaca di daratan.
Sebuah analisis menunjukkan adanya pola sistem pembentukan hujan yang berbeda, dengan tangkapan layar dari laman zoom.earth sebagai rujukan untuk menggambarkan pola tersebut. Cuaca yang berasal dari laut memberikan dampak signifikan bagi daerah yang dilalui.
Baca juga: Sri Mulyani: Tidak Pernah Lelah Mencintai Indonesia Meski Menghadapi Tantangan
BMKG telah merilis peringatan mengenai potensi hujan lebat yang dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jabodetabek. Peringatan ini berlaku hingga 26 Januari 2026, seiring dengan perubahan cuaca ekstrim yang mungkin terjadi.
Dalam laporan cuaca mingguan yang dirilis pada 19 Januari 2026, BMKG menjelaskan beberapa faktor penyebab cuaca ekstrem. Salah satu faktor tersebut adalah keberadaan sirkulasi siklonik dan penguatan monsun dingin dari Asia.
Siklon Tropis Nokaen menunjukkan penguatan dengan kecepatan maksimum angin mencapai 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa. Perubahan ini tentunya berpengaruh terhadap pola angin di wilayah utara Indonesia.
BMKG mencatat bahwa potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia juga berimbas pada kondisi cuaca di Indonesia. Tekanan udara tinggi di Gushi turut memperkuat penetrasi monsun Asia ke wilayah ekuator melalui Selat Karimata.
Fenomena cuaca yang terus berubah ini berpotensi menyebabkan peningkatan kejadian cuaca ekstrem, terutama di Pulau Jawa serta Sumatera Bagian Selatan. Kesadaran akan perubahan tersebut menjadi sangat penting untuk mengurangi dampak yang dapat ditimbulkan.
Dengan situasi yang terus berkembang, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada. Langkah antisipatif ini merupakan upaya penting untuk menghadapi potensi bencana yang mungkin timbul akibat curah hujan yang berkelanjutan.
Baca juga: Destinasi Menakjubkan untuk Menyaksikan Sunset di Indonesia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: