Waspadai Tanda Kelebihan Gula dalam Tubuh Anda
Kelebihan konsumsi gula kini menjadi sorotan utama dalam kesehatan masyarakat. Berbagai gejala fisik dan emosional perlu dikenali agar bisa mengambil tindakan preventif.
Baca juga: Kecerdasan Buatan Membuka Era Baru dalam Perawatan Keguguran
Dari penambahan berat badan hingga perubahan suasana hati yang mendalam, tanda-tanda ini dapat membantu Anda memahami dampak negatif dari asupan gula yang berlebihan.
Dr. Lela Ahleman, spesialis dermatologi dan pengobatan gizi, mengemukakan lima gejala penting terkait konsumsi gula berlebihan. Yang pertama adalah penambahan berat badan dan rasa lapar yang terus-menerus.
Kandungan kalori yang tinggi dalam gula dapat menyebabkan peningkatan berat badan secara cepat. Menurut Dr. Ahleman, 'Ketika Anda selalu lapar, Anda akhirnya makan lebih banyak daripada yang Anda butuhkan, yang pada akhirnya menyebabkan kenaikan berat badan.'
Gejala kedua adalah munculnya jerawat. Dr. Ahleman menjelaskan bahwa kadar hormon insulin-like growth factor 1 (IGF-1) yang meningkat akibat asupan gula, dapat merangsang kelenjar sebaceous dan menyebabkan peradangan yang memberi dampak negatif pada kulit.
'Bersama dengan insulin, IGF-1 merangsang kelenjar sebaceous dan keratinisasi berlebihan di area sebaceous, yang menyebabkan kelenjar tersebut tersumbat, sehingga menimbulkan jerawat dan peradangan,' tambahnya.
Baca juga: Menunjukkan Cinta Tanpa Kata: Cara Sederhana untuk Membahagiakan Pasangan
Konsumsi gula berlebih juga dapat mengubah suasana hati seseorang secara dramatis. Ketika kadar glukosa dalam darah meningkat, pelepasan insulin juga meningkat, yang dikenal sebagai hipoglikmia.
Dr. Ahleman menyatakan, 'Ini disebut hipoglikmia, yang kemudian menyebabkan keinginan makan yang kuat. Pada beberapa orang, hal ini juga menyebabkan perubahan suasana hati dan mudah marah.'
Terdapat pula risiko bagi sistem kekebalan tubuh ketika asupan gula melebihi kapasitas usus kecil. Gula yang tidak bisa diserap akan memasuki usus besar dan digunakan oleh bakteri di sana.
Menurut Dr. Ahleman, 'Pemberian makanan secara selektif menyebabkan perkembangan bakteri ini,' yang dapat mengakibatkan peradangan tanpa gejala, mempercepat proses penuaan, dan memperlemah sistem imun tubuh.
Dampak negatif gula terhadap kualitas kulit juga tak bisa diabaikan. Dr. Ahleman menekankan, 'Secara ilmiah, konsumsi gula yang tinggi menyebabkan pembentukan produk akhir glikasi lanjut atau Advanced Glycation End Products (AGEs), yang merusak serat kolagen.'
Kelebihan AGEs dapat mengakibatkan serat kolagen menjadi kaku dan rapuh, merusak kemampuan tubuh untuk memperbaiki dirinya sendiri. 'Ketika terlalu banyak AGEs, serat kolagen kita menjadi kaku, rapuh, dan mengalami degenerasi,' jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: