Toxic Positivity: Ketika Optimisme Menjadi Tidak Sehat
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah 'toxic positivity' semakin sering terdengar di kalangan masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa optimisme yang berlebihan dapat berkontribusi pada kesehatan mental yang buruk.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Perlakuan Istimewa Selebritas di DPR
Masyarakat sering kali mengalami tekanan untuk selalu berpikir positif, padahal ada momen-momen sulit yang perlu dihadapi dengan jujur dan terbuka.
Toxic positivity adalah sikap yang menekankan bahwa kita harus selalu berpikir positif, walaupun situasi tidak mendukung atau sulit. Ini sering muncul melalui ungkapan seperti 'Cobalah untuk tetap positif!' atau 'Berpikirlah baik-baik, segala sesuatu akan baik-baik saja!'.
Fenomena ini dapat muncul dalam berbagai konteks, mulai dari interaksi personal hingga media sosial. Hal ini menciptakan perasaan tertekan bagi individu, seolah-olah mereka tidak berhak mengalami emosi negatif seperti kesedihan atau kekecewaan.
Baca juga: Rekor Baru di Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool dan Aktivitas Klub Premier League
Meskipun sering muncul dari niat baik, toxic positivity dapat menambah beban emosional bagi individu. Ketika seseorang menghadapi masalah, nasihat untuk berpikir positif sering kali membuat mereka merasa diabaikan dan tidak dipahami.
Sebuah studi oleh Lisa Williams menunjukkan bahwa individu yang mengalami toxic positivity cenderung merasa lebih terasing dan kesepian. Hal ini terjadi karena mereka merasa sulit untuk mengungkapkan perasaan sebenarnya, takut tidak diterima oleh orang lain.
Penting untuk mengakui dan menerima semua emosi yang dirasakan, baik positif maupun negatif. Menghadapi perasaan sulit secara sehat dapat membantu proses penyembuhan dan pertumbuhan pribadi.
Memberikan dukungan kepada diri sendiri dan orang lain dengan empati merupakan langkah yang lebih baik daripada mengedepankan optimisme yang tidak realistis. Sebuah pendekatan yang lebih baik adalah mengungkapkan, 'Ini terasa sulit, tetapi kita bisa melewati ini bersama-sama.'
Baca juga: Tips Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang yang Cozy
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: