Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta: Ancaman Serius untuk Kesehatan
Temuan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa mikroplastik berbahaya terdeteksi dalam air hujan di Jakarta.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17
Hal ini menjadi peringatan serius terkait polusi plastik yang mencemari atmosfer dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.
Mikroplastik yang terdeteksi dalam air hujan di Jakarta berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan, sisa pembakaran sampah plastik, dan degradasi plastik di lingkungan terbuka.
Peneliti BRIN, Muhammad Reza Cordova, menyatakan bahwa partikel-partikel ini terbentuk akibat aktivitas manusia sehari-hari.
“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” ujar Reza, menggambarkan kontribusi polusi plastik di kota besar.
Mikroplastik terdeteksi dalam bentuk serat sintetik dan fragmen kecil plastik, terutama dari bahan polimer seperti poliester, nilon, dan polipropilena yang bersumber dari ban kendaraan.
Mikroplastik bisa terangkat ke udara melalui debu dan asap dari pembakaran, lalu akan terbawa angin sebelum jatuh kembali dalam bentuk hujan.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual Terbaru untuk Pengalaman Menonton yang Lebih Baik
Proses ini, dikenal sebagai atmospheric microplastic deposition, menegaskan bahwa siklus plastik tidak berhenti di laut.
“Siklus plastik tidak berhenti di laut. Ia naik ke langit, berkeliling bersama angin, lalu turun lagi ke bumi lewat hujan,” jelas Reza, yang mengindikasikan perlunya kesadaran lebih lanjut mengenai polusi plastik.
Partikel mikroplastik berukuran sangat kecil dapat terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan. Meskipun air hujan bukan sumber utama racun, partikel ini mengandung bahan kimia berbahaya dan dapat mengikat polutan lain.
Menanggapi temuan ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berkoordinasi dengan BRIN untuk menangani isu mikroplastik.
Kepala DLH, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa polusi plastik perlu direspon secara kolaboratif dan cepat, mengingat implikasinya yang telah mencapai atmosfer.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: