Kolak, hidangan manis dari bahan dasar pisang, ubi, atau ketela, telah menjadi favorit saat berbuka puasa di bulan Ramadan. Keberadaannya tidak hanya menggugah selera, namun juga kaya akan makna budaya.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Pengajuan Izin Penjualan iPhone 17
Tapi, sejak kapan sebenarnya kolak menjadi bagian tak terpisahkan dari berbuka puasa? Selidiki lebih jauh tentang sejarah dan transformasi kuliner ikonik Indonesia ini.
Sejarah dan Asal Usul Kolak
Kolak memiliki akar sejarah yang dalam di Indonesia, dengan beragam cerita tentang asal-usulnya. Makanan ini berasal dari tradisi masyarakat Jawa, sudah ada sejak zaman kerajaan untuk merayakan upacara ritual.
Selain itu, kolak sering kali dihubungkan dengan pengaruh budaya Hindu dan Islam yang mempengaruhi kuliner Nusantara. Variasi resep dan cara penyajiannya pun berkembang berkat interaksi antara pedagang dan pelancong dari berbagai daerah.
Baca juga: Microsoft Luncurkan Fitur Penyimpanan Otomatis di Word
Kolak dalam Tradisi Berbuka Puasa
Selama bulan Ramadan, kolak menjadi hidangan yang hampir selalu ada di meja berbuka puasa. Tradisi ini jadi momen penting untuk berkumpul bersama keluarga dan berbagi kebahagiaan.
Seiring waktu, semakin banyak variasi kolak yang dimunculkan, seperti kolak pisang, kolak ubi, dan kolak ketan. Setiap daerah membawa ciri khasnya masing-masing, memperkaya menu berbuka puasa di Indonesia.
Popularitas Kolak dalam Budaya Modern
Dengan perkembangan inovasi kuliner, kolak mengalami transformasi yang membuatnya semakin menarik. Berbagai kreasi baru seperti kolak durian dan kolak mini membuatnya semakin diminati.
Kolak kini bukan hanya sekadar hidangan berbuka puasa, tetapi juga menjadi oleh-oleh khas Ramadan. Penjual kolak dapat ditemukan di setiap sudut kota, menunjukkan popularitasnya yang terus meningkat.
Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mata di Era Digital
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: