Makanan viral telah menjadi tren di Indonesia, namun banyak konsumen merasa cepat bosan setelah mencobanya. Fenomena ini menarik untuk dibahas, terutama dalam konteks dampak sosial dan ekonomi dari makanan yang mendominasi dunia kuliner.
Baca juga: Uya Kuya Hadapi Penjarahan Rumah Setelah Viral Video Joget Anggota DPR RI
Makanan seperti banana bread dan dalgona coffee mungkin menggoda saat pertama kali dikenalkan, tetapi fakta bahwa kita cepat merasa jenuh memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan tren ini. Mari kita analisis lebih dalam mengenai penyebab di balik kejenuhan ini.
Kejenuhan Rasa
Salah satu penyebab utama cepatnya kejenuhan terhadap makanan viral adalah monotoninya rasa. Makanan yang sedang populer biasanya menawarkan rasa standar yang mudah ditemukan dimanapun.
Sebagian besar makanan viral didesain untuk tampil menarik secara visual, seperti desain unik atau warna menarik, tanpa mempertimbangkan karakteristik rasa yang dapat menarik konsumen dalam jangka panjang. Hal ini membuat konsumen tidak mendapatkan pengalaman baru setelah satu kali mencobanya.
Keterulangan rasa yang sama saat mencoba makanan tersebut akan mengurangi minat untuk mencobanya lagi. Rasa yang sudah terlalu umum cenderung mudah dilupakan, terutama jika dibandingkan dengan pengalaman rasa yang baru.
Baca juga: Olahraga Teratur: Investasi Kesehatan Jantung yang Tak Boleh Diabaikan
Faktor Sosial dan Ekspektasi
Media sosial memainkan peran besar dalam perkembangan makanan viral, menciptakan ekspektasi tinggi di kalangan konsumen. Namun, seringkali ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, ini dapat mengakibatkan kekecewaan.
Banyak makanan yang tampak menggugah selera di gambar dapat mengecewakan ketika dicoba secara langsung. Penurunan kualitas ini berpotensi menciptakan frustrasi yang membuat konsumen enggan mencoba lagi.
Untuk menambah kompleksitas, fenomena 'FOMO' (Fear of Missing Out) sering mendorong orang untuk segera mencoba makanan tersebut. Ketika tren makanan tersebut mulai menurun, minat untuk mencobanya pun ikut pudar, berkontribusi pada kejenuhan.
Ketersediaan dan Jangkauan
Ketersediaan berbagai makanan viral juga memengaruhi pengalaman konsumen. Dengan banyaknya outlet yang menjual makanan yang sama, konsumen merasa bombarded oleh pilihan yang tersedia.
Makanan yang awalnya eksklusif dan menarik menjadi mudah diakses, sehingga mengurangi daya tarik awalnya. Ketika semua orang dapat memperoleh makanan tersebut dengan mudah, elemen langka yang membuatnya menarik pun hilang.
Konsumen juga mulai mencari makanan yang sedikit lebih unik atau berbeda dari yang sudah banyak beredar. Ketika sesuatu dipasarkan secara masif, harapan dan kekhasan yang disuguhkan dapat kehilangan makna dan menjadi monoton.
Baca juga: Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Kesibukan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: