Jumat, 23 JANUARI 2026 • 20:33 WIB

Tahun 2025: Tantangan Besar Hino Motors di Pasar Truk Indonesia

Author

Tahun 2025: Tantangan Besar Hino Motors di Pasar Truk Indonesia

Tahun 2025 diperkirakan akan menjadi tantangan berat bagi Hino Motors di Indonesia akibat meningkatnya truk impor dari China.

Baca juga: Tips Mengubah Kamar Kecil Menjadi Ruang yang Cozy

Penurunan produksi yang signifikan diprediksi akan melanda, seiring dengan semakin ketatnya persaingan di pasar kendaraan komersial.

Dampak Serbuan Truk Impor

Hino Motors menghadapi dampak signifikan dari meningkatnya truk impor dari China. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa produksi Hino pada 2025 diproyeksikan menurun sebesar 22,6 persen menjadi 18.450 unit.

Trend ini jelas terlihat saat jumlah wholesales Hino pada 2024 mencapai 24.158 unit, namun diproyeksi akan turun drastis pada tahun mendatang. Penurunan ini menunjukkan adanya tantangan dalam permintaan dan daya saing produk Hino di pasar Indonesia.

Harianto Sariyan, Direktur Hino Motors Manufacturing Indonesia, menyatakan, "2025 tahun paling suram buat kami, sisa sekitar 25 persen. Karena tahun lalu banyak truk China masuk," diungkapkannya di pabrik pada 21 Januari 2026.

Baca juga: Olahraga Teratur: Investasi Kesehatan Jantung yang Tak Boleh Diabaikan

Investasi Hino di Indonesia

Meskipun menghadapi tantangan, Hino telah berinvestasi cukup besar dalam pengembangan pabrik di Indonesia. Pabrik yang terletak di Purwakarta memiliki luas area 296.000 m² dan bangunan seluas lebih dari 169.000 m² dengan nilai investasi mencapai US$112,5 juta atau sekitar Rp1,9 triliun.

Pabrik ini tidak hanya berfokus pada produksi truk, tetapi juga bus, dan didukung oleh 1.548 tenaga kerja. Hino mengklaim memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertinggi untuk kendaraan komersial, menunjukkan komitmen terhadap industri otomotif nasional.

Harianto juga menambahkan, "Kami sudah memiliki sertifikasi TKDN untuk 31 kendaraan niaga (bus dan truk) dengan persentase 44,35 persen hingga 57,26 persen," menjelaskan upaya perusahaan untuk memenuhi regulasi nasional.

Dampak terhadap Sektor Karoseri Lokal

Sektor karoseri lokal juga merasakan dampak dari meningkatnya truk impor. Kendaraan impor yang datang dalam kondisi siap pakai memberikan tantangan tambahan bagi produk lokal yang umumnya memerlukan proses tambahan dari produsen karoseri.

Harianto menegaskan, "Asosiasi karoseri sangat berat, karena kalau dari kami itu keluarnya (produk) lari ke karoseri. Kalau truk China itu (sudah termasuk) bodi jadu tinggal pakai," menggarisbawahi krisis yang dihadapi oleh industri lokal.

Dampaknya, banyak tenaga kerja di sektor karoseri terancam kehilangan pekerjaan seiring dengan penurunan permintaan untuk kendaraan niaga buatan dalam negeri.

Baca juga: Pilihan Olahraga Low Impact untuk Pemula

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU