Menggali Cerita Horor Minahasa Melalui Film 'Songko'
Film 'Songko' yang diproduksi oleh Dunia Mencekam Studio dan Santara baru saja meluncurkan gala premiere di Metropole XXI, Jakarta.
Baca juga: Rekor Baru di Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool dan Aktivitas Klub Premier League
Film ini tidak hanya sekadar hiburan, melainkan upaya nyata untuk mempromosikan kekayaan cerita tradisional Indonesia.
Whisnu Baker, Eksekutif Produser Santara, menyatakan, 'Kami ingin membawa cerita lokal ke level yang lebih luas, tapi tetap dengan keaslian yang kuat.' Upaya ini bertujuan untuk menampilkan kisah-kisah daerah yang jarang terangkat di layar lebar.
Dalam proses riset, kepala adat dan masyarakat setempat dilibatkan untuk memastikan keaslian visual dan atmosfer desa yang dihadirkan. Hal ini mencerminkan komitmen tim untuk menggambarkan budaya Minahasa secara akurat.
Sekitar 60 persen cast dan crew film ini berasal dari Manado dan sekitarnya. Kolaborasi antara sineas nasional dan talenta lokal memperkuat ikatan cerita dan dukungan terhadap komunitas.
Baca juga: Aksi Pria Berjaket Ojol Viral di Atas Kereta KRL di Stasiun Cikini
Cerita 'Songko' berfokus pada teror kelam yang diakibatkan oleh kemunculan makhluk misterius yang mengincar darah perempuan muda, berlatar pada tahun 1986 di Tomohon.
Sutradara Gerald Mamahit mengungkapkan, 'Ketakutan di Songko bukan hanya datang dari makhluknya, tapi dari manusia yang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain.' Hal ini menegaskan bahwa ketakutan yang dihadapi masyarakat bersumber dari dalam diri mereka sendiri.
Film ini juga menggambarkan perjuangan warga desa dalam melawan ketakutan yang mengancam harmonisasi di lingkungan sosial mereka.
Proses produksi film 'Songko' melibatkan pembangunan set desa di kaki Gunung Lokon, Tomohon. Set yang dibangun dari nol ini bukan hanya untuk syuting, tetapi juga menjadi representasi nyata dedikasi tim dalam menghasilkan film berkualitas.
Set tersebut kini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, menciptakan hubungan antara seni dan budaya lokal. Langkah ini menunjukkan komitmen untuk mengangkat kearifan lokal melalui seni film.
Usai gala premiere di Jakarta, film ini akan melanjutkan rangkaian premier ke Manado, sebagai penghormatan terhadap asal-usul cerita dan harapan untuk lebih banyak film yang memiliki identitas kuat.
Baca juga: Menciptakan Kamar Tidur Nyaman untuk Tidur Berkualitas dengan Fengshui
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: